Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 09 Apr 2020 22:15 WIB

Di Tengah Corona, Ekspor Kelapa Parut Sumut ke China Capai 75 Ton

Abu Ubaidillah - detikFinance
Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil Foto: Kementan
Jakarta -

Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Tanjung Balai Asahan mencatat tidak kurang dari 75.4 ton kelapa parut asal Provinsi Sumatera Utara diekspor ke China sejak Januari hingga April 2020.

Kondisi ekonomi yang melemah akibat wabah COVID-19 tidak menyurutkan permintaan dari negara China terhadap produk turunan subsektor perkebunan ini. Selain itu, 18.3 ribu ton atau setara nilai ekonomi Rp 397 miliar berhasil menembus pasar India, Vietnam, dan Malaysia pada periode Januari hingga April 2020.

"Secara nasional, tren sertifikasi ekspor kelapa parut juga meningkat, baik volume juga negara tujuan ekspornya," ujar Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2020).

Hal tersebut disampaikan ketika memberikan penjelasan di ruang monitor lalu lintas produk pertanian secara online, Rabu (8/4) di Jakarta. Menurutnya, sertifikasi ekspor kelapa parut asal Sumut ke Cina pada tahun 2019 mencapai 623 ton dan untuk ekspor dengan tujuan negara lain mencapai 70.923 ton dengan total nilai Rp 2.8 triliun. Ini meningkat sekitar 12% dari perolehan tahun 2018.

Kelapa parut yang merupakan produk olahan dari kepala makin digemari di pasar global. Kini, ekspornya tidak lagi berbentuk kelapa bulat, melainkan sudah menjadi kelapa parut atau santan.

Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin, Kementan kini terus memperbaiki iklim investasi dengan deregulasi dan juga penyediaan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk mendorong tumbuhnya hilirisasi industri produk pertanian.

Seluruh direktorat teknis di lingkup Kementan fokus untuk program peningkatan produksi dan nilai tambah, khususnya bagi komoditas strategis dan yang memiliki potensi dan peluang ekspor.

Selain itu, bekerja sama dengan jajaran pertanian di seluruh Indonesia, pembangunan pertanian berbasis kawasan berorientasi ekspor juga digalakkan. Barantan yang ditunjuk untuk menggawangi pencapaian target ekspor telah menyiapkan iMACE, aplikasi peta potensi ekspor sebagai alat bantu pengambilan kebijakan.

"Pada masa seperti sekarang ini, ekspor produk dalam bentuk olahan menjadi pilihan terbaik. Lebih tahan lama, mudah mengemasnya dan bernilai tambah. Harapannya selain menambah devisa negara, tentunya berdampak bagi kesejahteraan petani kelapa," pungkas Ali.



Simak Video "Stabilkan Harga, 250 Ribu Ton Gula Digelontorkan ke Pasar"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com