Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 10 Apr 2020 13:30 WIB

Harga Ayam Terjun Bebas Bikin Peternak Rakyat Sekarat

Vadhia Lidyana - detikFinance
Peternakan ayam di Bogor Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta -

Sudah jatuh tertimpa tangga itulah yamg dirasakan para peternak ayam menyikapi kondisi usahanya yang didera penyebaran virus Corona (COVID-19).

Sejak tahun lalu, harga ayam lebih sering di bawah harga produksi sehingga merugi. Harga ayam di tingkat peternak bisa di bawah Rp 10.000 perkilogram sementara ongkos produksi bisa mencapai sekitar Rp 18.000.

Walaupun sering merugi, namun kondisi pasar masih bisa menyerap karena ada permintaan masyarakat. Begitu terjadi wabah COVID-19, permintaan itu akhirnya turun drastis akibat adanya pembatasan sosial. Rumah makan, restoran, warung, banyak yang tutup, otomatis permintaan juga anjlok.

Bahkan menjelang bulan Ramadan yang merupakan masa tersibuk bagi para peternak menyiapkan ayam untuk kebutuhan bulan Ramadan lanjut Lebaran dianggap belum bisa mendongkrak kenaikan permintaan yang sudah berada di level terendah.

"Kondisi peternakan ibaratnya sudah seperti mayat hidup, sejak tahun 2019 lalu kami terus merugi. Adanya wabah corona ini sebagai menambah sakit saja dan menderita," ujar Parjuni, salah satu peternak ayam.

Ia menuturkan, sebelum terjadi wabah, peternak masih sempat menjual Rp12.000-Rp13.000, begitu terjadi wabah, harga menjadi terjun bebas hanya Rp 8.000 bahkan Rp 4.000 perkilogram. Sementara ongkos produksi tidak pernah turun, tetap Rp 17.500 - Rp 18.000.

Bagi konsumen hal ini agak susah dipahami karena harga di pasar basah atau pasar moderen masih stabil di angka Rp 30.000-35.000 per kilogram.

Rusaknya harga ayam ini terjadi akibat kelebihan pasokan sejak setahun lalu. Pada kondisi sekarang, permintaan ayam menurun hingga lebih 50 persen akibat pembatasan aktivitas masyarakat untuk mengurangi penyebaran COVID-19.

Parjuni mengatakan, sejak tahun lalu, komposisi suplai selalu berlebih setiap bulan, rata-rata suplai mencapai 300 juta kg per bulan, padahal kebutuhan pasar hanya 245-255 juta kg per bulan atau rata-rata 250 juta kg per bulan.

Ada kelebihan 50 juta per bulan atau per minggu 12.500-15juta. Sudah melebihi kebutuhan masyarakat.

Sehingga ia pun pesimis, kalaupun Lebaran ada peningkatan, tetap saja belum memberikan keuntungan buat peternak rakyat.

"Ada kenaikan 20-25 persen terutama di Jawa atau maksimal 30 persen itu sudah bagus tapi tetap masih kelebihan suplai. Saat lebaran kenaikan ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, karena kalau di Jawa Barat dan DKI justru berkurang karena orangnya mudik. Tapi kalau ada pelarangan mudik, artinya demand saat lebaran tidak ada tambahan, nilai konsumsinya tidak akan melonjak," kata peternak yang sudah berusaha sejak 2003 ini.

Pekerjaan atau bisnis Anda terdampak Corona dan PSBB? Kehilangan pekerjaan karena PHK, tidak bisa berjualan karena PSBB, atau gaji dipotong karena bisnis lesu?

Jangan cuma diam, ceritakan kepada kami kisah Anda melalui email ke redaksi@detikFinance.com dalam bentuk tulisan, foto, maupun video. Pemerintah harus tahu dampak dari kebijakan yang diambil sejak darurat Corona. Sertakan nomor telpon aktif sehingga reporter kami bisa menghubungi.



Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com