Tukang Cukur hingga Pekerja Lepas Dihantam Ganasnya Corona

Soraya Novika - detikFinance
Minggu, 12 Apr 2020 06:55 WIB
Pengangguran
Foto: Fuad Hasim
Jakarta -

Wabah virus Corona telah memukul roda usaha sektor informal. Kalangan ini mengaku kebingungan menarik pendapatan di saat warga lainnya membatasi aktivitas sosial mereka guna mencegah penyebaran virus tersebut. Bahkan, ada yang benar-benar tak dapat pemasukan sekali sejak imbauan work from home (WFH) diberlakukan.

Setidaknya itu yang dialami oleh Kartini, seorang Pedagang Kantin salah satu sekolah swasta di Bandung. Menurut Kartini, sejak aktivitas belajar mengajar di sekolah dihentikan, dirinya sudah tidak mendapat pemasukan sama sekali.

"Saat dapat kabar seluruh kegiatan belajar akan diliburkan, saya hari itu merasa lemas, cemas, karena income yang saya dapat hanya dari kantin tersebut dan saya pun selama ini belum pernah berjualan online, jadi saya hanya betul-betul mengharapkan dari berjualan di kantin sekolah saja," ujar Kartini kepada detikcom, Sabtu (11/4/2020).

Tak hanya pedagang kantin saja yang menjerit atas musibah ini. Ada Aziz, tukang cukur di Jakarta Barat yang merasakan imbas dari aturan social distancing di tengah pandemi ini.

"Pekerjaan kami sudah dipastikan melakukan kontak fisik dengan orang lain, sangat besar bagi kami menjadi carrier ataupun korban positif virus ini, tidak ada opsi bagi kami melakukan imbauan pemerintah untuk WFH, kan tidak bisa juga cukur secara online. Sehingga kami diharuskan tutup dan berharap semua ini cepat selesai dan kami bisa bekerja kembali secara normal," kata Aziz kepada detikcom.

Aziz mengaku selama diterapkannya imbauan WFH, para pekerja di bidang ini dipastikan tidak memiliki pemasukan sama sekali. Sebab, sistem penerimaan gaji bukan berdasarkan gaji pokok, namun berdasarkan komisi per kepala. Meskipun ada barbershop yang buka demi bertahan di tengah situasi ini, pendapatan dipastikan menurun hingga 80% dari biasanya.

"Walaupun ada sedikit dari kami tetap buka untuk tetap bekerja tapi ada penurunan lebih dari 80% dari jumlah customer dari hari-hari biasa, seberapa banyak orang yang mau disentuh kepalanya oleh orang lain di situasi seperti ini? Cukup? Jelas sangat tidak dibanding dengan risikonya yang nekad tetap melakukan kontak dengan orang lain dan hanya mendapatkan untuk kebutuhan makan saja," keluhnya.

Ada lagi Elsa Sinambela, pemilik les privat yang kewalahan karena bisnisnya tak bisa jalan sejak sekolah diliburkan. Sehingga, banyak guru-guru les privat yang menggantungkan pendapatan dari bisnis miliknya itu ikut-ikut terkena imbas.

Tak hanya pedagang kecil yang tertekan digempur virus Corona, karyawan di perusahaan besar juga banyak yang merasa was-was, mulai dari terancam tak menerima THR, pemotongan gaji, hingga dirumahkan tanpa digaji.

Pukulan semacam ini salah satunya telah dirasakan oleh beberapa karyawan leasing ternama di Indonesia. Seperti yang dialami Musliandi misalnya, ia mengaku rekan kerjanya sebagian sudah dirumahkan. Bila wabah tak dapat diselesaikan sampai 3 bulan ke depan, dirinya dan sebagian besar karyawan lainnya juga terancam hal yang sama.

"Ada beberapa karyawan yang sudah dirumahkan, karena status mereka kontrak, saya sedih dengan semua itu dan kabarnya selama 3 bulan ke depan kalo wabah ini ga selesai, nasib saya sama dengan teman-teman yang dirumahkan tadi," ucap Musliandi kepada detikcom, Sabtu (11/4/2020).

Saat ini, dirinya mengaku sudah tak lagi menerima bonus bahkan terancam juga tak mendapat THR. "Bonus nggak keluar, terus THR juga kabarnya tidak ada," sambungnya.

Ada juga pegawai di perusahaan leasing lainnya di daerah Kudus bernama Wisnu yang bahkan sudah di-PHK.

"Dari tanggal 1 April, saya diberhentikan, mereka menggunakan istilah habis kontrak, mereka tidak mau menggunakan istilah PHK, di mana harus memberi pesangon, saya benar-benar berhenti bekerja di hari itu juga," kata Wisnu.

Wisnu tak hanya kehilangan pekerjaan dan tak menerima pesangon, dirinya mengaku juga tak mendapat surat rekomendasi atau referensi kerja untuk mencari pekerjaan lainnya. Hal itu berat baginya apalagi buat istri, mengingat tak sempat mencari pekerjaan lain sebelum diberhentikan.

"Tidak ada info apapun sebelumnya, mereka mengatakan mendapat email dari kantor pusat mengenai pemberhentian saya, tanggal 31 Maret, tidak ada persiapan untuk saya mencari pekerjaan lainnya. Tidak adil, istri saya pun menangis di rumah mendengar kabar ini. Dan, parahnya lagi, saya belum mendapatkan hak saya yaitu surat rekomendasi atau referensi kerja untuk mencari pekerjaan lagi," pungkasnya.

Lalu, pekerja lepas (freelance) pun demikian. Pekerja lepas pada kelimpungan lantaran sebab banyak proyek atau pesanan dari perusahaan-perusahaan tempat mereka berkontribusi ikut batal karena Corona. Penundaan proyek otomatis ada pendapatan yang tersendat sampai ke kantong mereka.

Seperti yang dialami Satria, seorang musisi yang bergantung hidup sebagai pekerja lepas di bidang tersebut. Ia mengaku menerima banyak pembatalan pesanan acara karena pandemi ini.

"Sebelum ada pandemik ini, pekerjaan saya jadwal kerjanya banyak sekali, terutama di bulan Maret dan April. Job nikahan, cafe, dan event. Tapi dengan adanya musibah ini, perlahan-lahan satu per satu kerjaan saya dibatalkan," keluh Satria kepada detikcom.

Ia mengaku pendapannya kini kian menipis. Ia pun merasa khawatir dengan kehidupan di bulan-bulan selanjutnya bila sama sekali tidak ada panggilan untuk mengisi acara seperti sekarang.

"Bisa anda bayangkan bagaimana saya bisa bertahan hidup ke depan dengan tidak ada pemasukan dari pekerjaan saya. Saya mengontrak dengan istri saya dan kami makan apa adanya. Kami mengikuti setiap kebijakan pemerintah untuk tetap di rumah. Dengan berharap pandemik ini segera berakhir," tutupnya.

Tak hanya Satria, Rio yang juga berprofesi serupa yakni musisi longtrip pun merasakan nasib yang sama. Rio mengaku dirinya dan teman-teman seprofesinya merasakan pahitnya tak menerima pendapatan sama sekali.

"Pekerjaan saya ini biasanya main dari satu kota ke kota lain, akibat corona ini saya dan rekan-rekan seprofesi saya benar-benar kehilangan lahan untuk mencari rezeki," ucap Rio.

Ia berharap pemerintah memberi solusi lain dari sekadar membagikan sembako. Ia ingin ada solusi yang memungkinkan pekerja seperti dirinya tetap bisa mencari nafkah di tengah situasi seperti ini.

"Kompensasinya hanya diberikan sembako senilai Rp 600 ribu/bulan selama 3 bulan. Bukan itu yang kita butuhkan dan saya yakin kompensasi itu juga tidak rata pembagiannya, dengan adanya aturan PSBB atau apapun itu tidak akan merubah keadaan jadi lebih baik. Tapi akan menaikkan tingkat kriminalitas," imbuhnya.

Lalu, ada Iwan, seorang pekerja lepas di bidang event organizer. Serupa dengan dua musisi lainnya, pekerjaan satu ini juga sama terpukulnya. Menurutnya, jenis pekerjaannya yang insidental tersebut sangat bergantung pada kunjungan kerumunan banyak orang.

Sejak adanya imbauan work from home, pekerja event organizer benar-benar kehilangan pendapatan mereka.

"Satu persatu event/acara dibatalkan, berawal dari kesadaran client kami untuk menghindari kerumunan orang hingga pembatalan izin oleh pihak pemerintah. Pada saat pemerintah memberhentikan pemberian izin keramaian, di situ pekerjaan kami berhenti, penghasilan kami setop. Bahkan beberapa pekerjaan kami yang sudah selesai pun tidak dibayarkan oleh client kami, karena nasib mereka pun sama dengan kami, tidak ada pemasukan," paparnya.



Simak Video "Bertambah 4.071, Kasus Covid-19 di Indonesia Mencapai 252.923"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)