Mengintip Cara Bertahan Ekonomi China di Tengah Impitan Corona

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 14 Apr 2020 18:15 WIB
Wabah Corona turut berdampak pada sektor industri di China. Usai laporkan penurunan kasus baru COVID-19, industri Negeri Tirai Bambu kembali bergeliat.
Ilustrasi/Foto: Getty Images
Jakarta -

Di saat banyak negara menunjukkan peningkatan kasus virus Corona (COVID-19), China kini malah sebaliknya. Kasus positif COVID-19 di sana semakin menyusut disusul angka kesembuhan yang melonjak cukup signifikan. Oleh karenanya, tak heran aktivitas ekonomi di Negeri Tirai Bambu itu kini mulai kembali normal.

Bahkan, menurut Duta Besar Indonesia untuk China Djauhari Oratmangun roda perekonomian di Kota Beijing, China sudah mulai menggeliat kembali pasca diimpit virus Corona (COVID-19).

"Memang banyak sektor yang terkena imbas daripada COVID-19 ini tetapi perlahan-lahan mulai menggeliat di Tiongkok, meski belum seperti semula," ujar Djauhari dalam konferensi pers virtual bertajuk Surviving The COVID-19 Preparing The Post Resources, Mining and Energy Industry Perspective, Selasa (14/4/2020).

Salah satu sektor ekonomi yang menonjol sejak adanya Corona di sana adalah jasa pengiriman makanan atau online food delivery serta sektor logistik lainnya.

"Ada 1 yang menonjol selama 2 bulan atau 3 bulan ini itu adalah Online Food Delivery itu meningkat sebesar 20% karena memang pola akan berubah, orang sudah nyaman dengan online selama karantina kurang lebih 80 hari sekarang hari ke 81. Kemudian logistik juga luar biasa cepat juga, antar pesan ini langsung datang. Jadi ada kompetisi juga di sana itu berkembang secara pesat," ungkapnya.

Sedangkan, untuk sektor-sektor ekonomi yang terpuruk selama Corona di China adalah sektor pariwisata, serupa seperti yang dialami di Indonesia.

"Industri paling kena imbas itu industri pariwisata juga di sini, hotel-hotel okupansi rate nya itu turun bahkan tutup sama sekali. Tetapi, in all ekonominya mulai bergerak," tambahnya.

Ia menerangkan alasan bagaimana pemerintah China mampu menjaga perekonomian negara itu tidak sampai kolaps dan bangkit perlahan dalam waktu singkat. Menurutnya, faktor utama dari kebangkitan saat ini adalah jumlah insentif yang tak main-main dari pemerintah kepada industri hingga UMKM nya.

"Karena insentif yang diberikan oleh pemerintah, mereka punya cadangan devisa US$ 3,3 triliun, mereka kucurkan itu untuk stimulate berbagai aktivitas ekonomi. Catatan terakhir cadangan devisa mereka sekarang tinggal US$ 3,06 triliun, berarti banyak yang diberikan sebagai stimulan untuk industri-industri khususnya UKM. Bayangkan mereka keluarkan itu di atas US$ 200 M untuk itu semua," tuturnya.

Untuk itu, ekonomi China dimungkinkan untuk kembali berjalan normal pada Semester II-2020 ini. Meski negara lain belum pulih seutuhnya.

"Beberapa waktu yang lalu, pemerintah China optimis yaitu Mei (2020) sebenarnya. Tetapi melihat perkembangan terkini kan ada sekarang diramalkan Eropa, Amerika dan lain-lain baru kembali itu bulan Oktober beraktivitas. Dengan demikian harus mundur lagi, mungkin menurut kalkulasi kita di sini, itu baru semester II tahun ini, itu perkiraan optimis, tapi kita masih menunggu perkiraan dari pemerintah China sendiri, tetapi yang jelas aktivitas-aktivitas ekonominya itu sudah mulai didorong dengan tadi mereka meluncurkan dana dari devisa mereka yang berlebih," katanya.



Simak Video "Klaster Baru Covid-19 di Bejing Lewat Ikan dan Produk Laut"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)