Curhatan Pengusaha Money Changer di Bali, Sepi Gegara Corona

Abu Ubaidillah - detikFinance
Rabu, 22 Apr 2020 11:01 WIB
Money Changer BRI di Skouw
Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Bali tak lagi ramai dikunjungi wisatawan sejak WHO mengumumkan pandemi COVID-19. Hal tersebut berimbas kepada semua bisnis sektor pariwisata Bali menjadi lumpuh, termasuk usaha penukaran mata uang asing (money changer).

Alvian Samprow (46), salah satu pemilik usaha money changer di kawasan Jimbaran menyebut pendapatannya menurun sejak virus Corona menyebar hingga ke Bali. Sebab, wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata Jimbaran, Bali juga menurun.

"Dampaknya besar sekali apalagi buat pariwisata. COVID-19 ini membuat usaha turun banget, bisa pendapatan dalam sehari 0, karena tamunya [pengunjung] sudah tidak ada yang menukar, sudah tidak ada," kisah Alvian dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4/2020).

Alvian yang telah menggeluti usaha tersebut selama 20 tahun dihadapkan pada situasi sulit, namun kemudian Ia menemukan titik terang ketika dirinya tak sengaja menonton sebuah berita di televisi.

Berita yang Ia tonton menginformasikan bahwa pemerintah memberikan kelonggaran kredit baik yang diberikan oleh perbankan maupun industri keuangan nonbank berupa penundaan cicilan hingga 1 tahun dan juga penurunan bunga.

Dari situ, Alvian yang merupakan nasabah bank BRI menghubungi kantor cabang terdekat untuk mengajukan keringanan pinjaman. Menurut Alvian, proses pengajuannya relatif mudah dan cepat sehingga Ia tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan relaksasi kredit. Ia menambahkan, keringanan tersebut sangat menguntungkan untuk perkembangan bisnisnya.

"Keringanan yang diberikan sangat membantu, karena pemasukan menurun. Jadi kalau otak sudah tenang tidak perlu mikir harus bayar pinjaman begini-begini, kerja bisa fokus ya, walau penghasilannya tidak seperti biasanya," kata Alvian.

Menurut pria asal Manado yang telah menjadi nasabah bank BRI selama 11 tahun ini, sebelum COVID-19 bisnis yang Ia jalani selalu ramai pengunjung baik domestik maupun turis asing dengan penghasilan mencapai Rp 12 juta - Rp 15 juta per bulan.

Bahkan, karena ramainya, Alvian juga bekerja sama dengan money changer skala besar guna memenuhi kebutuhan valas.

"Usaha money changer bukan usaha satu-satunya, kadang-kadang saya juga mengantar tamu (wisatawan), tetapi sekarang tamunya [turis] saja sudah tidak ada. Paling orang domestik yang menukar uang, tetapi juga sekarang terpengaruh imbauan physical distancing," kata Alvian.

Saat masa pandemi seperti sekarang, ayah tiga anak ini berupaya mendapat pemasukan lain dengan mencoba berdagang online. Pasalnya pendapatan dari usaha money changer tak lagi dapat diandalkan olehnya.

"Sekarang ini nasabah-nasabah juga sangat terbantu adanya program dari BRI ini dan semoga saja COVID-19 bisa selesai. Jadi bisa berusaha lagi kerja lagi, untuk sekarang ini memang terbantu sekali dengan adanya program ini," jelasnya.

Ia berharap agar wabah COVID-19 bisa segera berlalu agar aktivitas pariwisata dan ekonomi kembali pulih sehingga roda bisnis money changer dan usaha sampingannya dapat kembali berjalan seperti biasa.

BRI dalam kebijakan relaksasi kredit memberikan keringanan bagi pelaku usaha yang mengalami penurunan usaha akibat wabah COVID-19. Hal ini sebagai bentuk dukungan untuk keberlangsungan sektor UMKM dan meningkatkan layanan kepada nasabahnya di tengah kondisi pandemi COVID-19.



Simak Video "Pengrajin Rebana, Syiar Agama yang Menghasilkan Materi"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)