Corona Hantam Bisnis Penerbangan, Pulihnya Bisa Makan Waktu

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 02 Mei 2020 14:00 WIB
Penerbangan Terpanjang Qantas, rute London-Sydney
Foto: Qantas/CNN
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang terjadi di dunia turut mengganggu bisnis penerbangan. Termasuk bisnis penerbangan di Indonesia.

Pengamat industri penerbangan Chappy Hakim mengungkapkan saat ini memang maskapai penerbangan di Indonesia sedang terseok-seok. Pasalnya arus penumpang menurun drastis dengan adanya pandemi yang menyebabkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ini.

"Kecenderungan penumpang terus menurun. Apalagi industri penerbangan itu juga dipengaruhi oleh validity pilot yang hanya 6 bulan. Kalau dia tidak terbang selama 6 bulan maka harus memperbarui lisensi dan pelatihan, sampai medical check up sebelum kembali bekerja. Nah ini yang menjadi kendala rumit dalam waktu yang lama," kata Chappy dalam sebuah diskusi, Sabtu (2/5/2020).


Chappy mengungkapkan dalam kondisi saat ini kondisi penerbangan di Indonesia memang serba sulit. Penerbangan merupakan bisnis yang biasa digunakan oleh pengusaha, saat tak ada produksi maka kemungkinan pergerakan di industri juga semakin kecil.

Saat ini yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan berupaya menyelamatkan maskapai, minimal Garuda Indonesia yang merupakan BUMN.

Misalnya dengan menggulirkan sistem perhubungan udara yang disiapkan untuk kondisi terburuk. Seperti angkutan udara militer atau darurat.

"Memang saat ini kondisinya belum diketahui perkembangannya seperti apa. Beda penanganan akan berbeda hasilnya," imbuh dia.

Menurut Chappy, dibutuhkan insentif atau dukungan yang kuat dari pemerintah untuk industri penerbangan di Indonesia agar bisa tetap bertahan di kondisi sulit seperti ini.



Simak Video "Sederet Maskapai Dunia yang Bangkrut Gara-gara Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/hns)