Begini Dampak Musim Kemarau di Tengah Corona

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 08 Mei 2020 10:53 WIB
Kondisi air Waduk Mrica di PLTA Jenderal Sudirman, Banjarnegara, Jateng, menyusut drastis saat musim kemarau tahun ini. Beberapa titik di waduk tersebut terlihat berubah menjadi daratan.
Foto: Uje Hartono
Jakarta -

Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait 30% wilayah zona musim (ZOM) yang akan mengalami kemarau lebih kering tahun ini. Untuk itu, Jokowi mengingatkan seluruh pihak untuk mewaspadai dampak kekeringan ini terhadap ketersediaan bahan pokok.

"Berdasarkan prediksi dari BMKG, 30% wilayah-wilayah yang masuk zona musim ke depan akan mengalami kemarau yang lebih kering dari biasanya. Oleh sebab itu, antisipasi, mitigasi harus betul-betul disiapkan sehingga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pangan tidak terganggu," kata Jokowi dalam rapat terbatas lewat konferensi video, Selasa (5/5/2020).

Lalu, seberapa besar dampak musim kemarau atau kekeringan ini terhadap ketersediaan pangan seluruh masyarakat Indonesia?

Menurut Pengamat Pertanian dari The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah kekeringan tersebut akan mengancam musim panen kedua tahun ini. Sehingga beberapa komoditas pangan pokok terutama beras akan mengalami defisit lebih dalam dari tahun sebelumnya.

"Berarti itu akan mengancam panen kedua. Ancaman defisit produksi beras bukan hanya di Oktober, November, Desember saja, tapi juga mulai dari Agustus mendatang. Agustus atau September biasanya surplus produksinya, jika ada kekeringan, bisa minus," ujar Rusli kepada detikcom, Jumat (8/4/2020).

Tanpa musim kekeringan saja, menurut Rusli dapat mengakibatkan defisit beras hingga 700 ribu ton per bulan. Apalagi ditambah dengan musim kering yang akan berlangsung beberapa bulan ke depan.

"COVID-19 ini saja sudah membuat distribusi logistik itu terganggu, terutama beras, aktivitas ekspor impor beras terganggu, misalnya India, Vietnam dan Thailand itu sudah mendeklarasikan bahwa mereka tidak akan mengekspor berasnya selama pandemi ini. Kalau seandainya itu terjadi Indonesia ada ancaman di akhir tahun, Oktober sampai Desember bahkan Januari itu kita defisit beras. Produksi kita 1,6 juta tapi konsumsinya 2,5 juta ada gap sekitar 700 ribu ton per bulan," tuturnya.

Selain beras, komoditas lain yang juga cukup rentan adalah gula dan bawang putih.

"Yang paling krusial lainnya paling gula sama bawang putih, tapi mungkin karena China sudah mulai recovery akan lancar lagi impor bawang putih jadi cukup aman sebenarnya," tutupnya.



Simak Video "Pergantian Tahun Harga Pangan Stabil, Polri: Tak Ada Penimbunan"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)