Pertumbuhan Ekonomi Rendah, Salah di Mana?

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 11 Mei 2020 05:00 WIB
Pandemi virus Corona membuat dunia usaha babak belur.  COVID-19 juga diproyeksi mendatangkan malapetaka pada ekonomi Indonesia, bahkan dunia.
Ilustrasi/Foto: Antara Foto
Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2020 hanya 2,97% atau terkontraksi 2,41% dibandingkan kuartal IV-2019. Itu artinya roda ekonomi Indonesia melambat di 3 bulan pertama tahun ini.

Apa yang menjadi penyebabnya?

"Sebabnya itu bisa beragam untuk pertumbuhan ekonomi kuartal I yang cuma 2% itu salah satunya disebabkan karena melambat pertumbuhan konsumsi rumah tangga dari 5% di kuartal I-2019 menjadi 2% di Q1-2020," kata ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet kepada detikcom, Minggu (10/5/2020).

Daya beli atau tingkat konsumsi rumah tangga memang memiliki kontribusi besar terhadap pembentukan ekonomi tanah air, sekitar 56%. Konsumsi rumah tangga sendiri hanya tumbuh di level 2,84% dibandingkan kuartal I-2019 yang sebesar 5,02%.

"Lalu kenapa pertumbuhan konsumsi bisa melambat ya salah satunya karena daya beli masyarakat berkurang, sehingga keinginan untuk melakukan konsumsi tidak seantusias tahun lalu," tambahnya.

Pertumbuhan ekonomi yang melambat juga terjadi karena berkurangnya permintaan barang dan jasa. Beberapa industri pun terdampak yang kemudian melakukan PHK. Ujungnya daya beli kembali menurun.

"Dampak PHK inilah yang berdampak pada rumah tangga, pendapatan mereka tergerus," tuturnya.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pemerintah sudah menyiapkan skenario kondisi ekonomi tahun ini. Ada dua skenario pertumbuhan yakni 2,3% dan skenario terburuknya kontraksi atau -0,5%.

Jika ekonomi RI di 2020 berada di skenario terburuk maka konsumsi tahun ini bisa mendekati 0%. Hal itu tentu bergantung pada kondisi pandemi yang saat ini tengah terjadi.

"Kalau di 2,3% itu artinya konsumsi masih tumbuh positif. Kalau sampai di -0,5% barangkali konsumsi sebagian mengalami pertumbuhan nyaris 0% secara over all. Kita masih punya tiga kuartal. Jadi kalau kuartal II memang kondisi PSBB meluas mungkin akan merosot. Kita berharap di kuartal III dan IV bisa agak sedikit pulih," terangnya.

Lalu apa maksudnya pertumbuhan ekonomi bisa sampai minus?

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Jokowi: Ngeri, Dari Waktu ke Waktu Prediksi Ekonomi Dunia Makin Buruk"
[Gambas:Video 20detik]