Separuh Kursi Kosong, Garuda Minta Tarif Batas Atas Naik 100%

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 14 Mei 2020 21:35 WIB
Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -
"Logikanya kalau sekarang ini kita nggak bisa isi penuh, ya bisa nggak tarif batas atasnya dinaikkan 100%?"Irfan Setiaputra, Direktur Utama Garuda Indonesia

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengusulkan pemerintah meninjau kembali tarif batas atas (TBA) tiket pesawat, mengingat di tengah penerapan jaga jarak fisik (physical distancing), maskapai hanya boleh membawa penumpang sebanyak 50% dari total kapasitas. Artinya separuh kursi dibiarkan kosong.

Atas dasar kondisi tersebut, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengusulkan TBA tiket pesawat dinaikkan 100%. Jika itu diimplementasikan, bukan otomatis pihaknya akan menaikkan harga tiket. Paling tidak ada ruang yang cukup jika perlu dilakukan penyesuaian tarif.

"Logikanya kalau sekarang ini kita nggak bisa isi penuh, ya bisa nggak tarif batas atasnya dinaikkan 100%? Jadi yang tadinya (pesawat) isi 100 orang bayarnya Rp 1 juta, sekarang karena isinya 50 orang ya bayar Rp 2 juta. Tapi itu batas atas ya, belum tentu kita manfaatkan juga. Tapi ini memungkinkan kita untuk lebih fleksibel," kata dia saat dihubungi detikcom, Kamis (14/5/2020).


Untuk saat ini dia memastikan harga tiket pesawat Garuda Indonesia masih dalam taraf normal. Namun pihaknya berharap ada relaksasi buat maskapai penerbangan.

"Ya mudah-mudahan kita bisa dapat relaksasi lah nanti. Maksudnya kalau pesawat cuma isinya 50, pilihannya kan selalu 2, dibolehkan nggak physical distancing, atau tiketnya harus physical distancing (tapi) harganya boleh dinaikkan," jelasnya.

Dia menjelaskan saat ini semua pihak terkena imbas pandemi COVID-19, termasuk pihaknya sebagai maskapai yang harus terbang meskipun jumlah penumpang tidak penuh.

"Tapi yang paling penting semua harus sehat. Kita sih berbicara terbuka saja dengan semua pihak, cari solusi yang terbaik, 'oh kita sepakat begini', seperti kemarin ya kita coba saja. Kalau ternyata solusinya masih perlu ada perbaikan ya diperbaiki," terangnya.

Pihaknya pun terus melakukan pembicaraan dengan pemerintah. Namun sebagai perusahaan milik negara, Garuda Indonesia harus patuh dengan pemegang saham tertinggi tersebut.

"Bahwa Garuda ini milik pemerintah. Jadi mandat pemerintah, tugas pemerintah harus kita jalankan, salah satunya memastikan bahwa terhubung kota dengan kota, apalagi kita negara kepulauan," tambahnya.



Simak Video "Maskapai Komplain Soal Harga Tiket, Ini Kata Menhub"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/dna)