Pemerintah Mau Longgarkan PSBB Demi Ekonomi, Kenapa Harus Sekarang?

Trio Hamdani - detikFinance
Minggu, 17 Mei 2020 11:35 WIB
Pengendara motor dan mobil antre melintas saat terjadi keramaian lalu lintas di Jalan Raya Sawangan, Depok, Jawa Barat, Sabtu (16/5/2020). Meski penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Kota Depok masih diperpanjang hingga 26 Mei 2020, namun sejumlah ruas jalan mulai ramai dipadati kendaraan hingga menyebabkan kemacetan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Jakarta -

Pemerintah belakangan melontarkan wacana untuk merelaksasi alias melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Tujuannya untuk pemulihan ekonomi. Namun ekonom menilai langkah tersebut belum tepat dilakukan saat ini.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa isu pelonggaran PSBB memang menjadi perdebatan di banyak negara, tak hanya Indonesia, mengenai kapan waktu yang tepat untuk melakukan relaksasi. Tapi menurutnya untuk Indonesia terlalu prematur bila dilakukan dalam waktu dekat.

"Iya betul (relaksasi PSBB) memang untuk ekonomi, tetapi jangan lupakan bahwa melakukan reopening (membuka kembali kegiatan) secara prematur itu justru bisa berbahaya untuk menambah bertambahnya kasus COVID-19," kata dia saat dihubungi detikcom, Minggu (17/5/2020).

Melihat dari beberapa kasus ke belakang, kasus positif COVID-19 di Indonesia belum bisa dikatakan melandai. Menurutnya masih terjadi peningkatan tren kasus positif virus Corona di Indonesia. Berbeda dengan negara lain yang memang kasus positifnya sudah mereda sehingga amat dimungkinkan untuk membuka kembali kegiatan ekonominya.

"Kalau misalnya kita melihat perbandingan dengan negara lain yang ingin melakukan re-opening (membuka kembali kegiatan), setahu saya misalnya Jepang itu memang kurvanya sudah landai. Dan kalau kita melihat Indonesia masih meningkat, kemudian pemerintah juga tidak jelas," ujarnya.

Dia menilai pemerintah belum memiliki gambaran yang jelas soal pelonggaran PSBB. Bahkan sulit mengatakan jika PSBB dilonggarkan efektif untuk memulihkan perekonomian.

"Soalnya juga pemerintah tidak mengeluarkan, misalnya kebijakan terkait seberapa besar sih proses re-opening ini akan mem-boost ekonomi. Jadinya kami analis, ekonom, peneliti, agak susah kalau misalnya menganalisa kira-kira ini akan berdampak terhadap perekonomian atau nggak?" tambahnya.



Simak Video "Bertambah 308 Positif Corona 14 Mei, DKI Sumbang 114 Kasus"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)