Gegara Corona Pertumbuhan Kredit 2020 Diramal 1-2%

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 18 Mei 2020 17:55 WIB
Pengembalian Uang Korupsi Samadikun

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Toni Spontana (tengah) menyerahkan secara simbolis kepada Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman A. Arianto (ketiga kanan) uang ganti rugi korupsi Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) dengan terpidana Samadikun Hartono di Gedung Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (17/5/2018). Mantan Komisaris Utama PT Bank Modern Samadikun Hartono terbukti korupsi dana talangan BLBI dan dihukum 4 tahun penjara serta diwajibkan mengembalikan uang yang dikorupsinya sebesar Rp 169 miliar secara dicicil. Grandyos Zafna/detikcom

-. Petugas merapihkan tumpukan uang milik terpidana kasus korupsi BLBI Samadikun di Plaza Bank Mandiri.
Foto: grandyos zafna
Jakarta -

Penyebaran COVID-19 menekan perekonomian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Selain itu, kondisi ini juga turut mempengaruhi pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang ada di perbankan.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto mengungkapkan saat periode Maret 2020 total aset, kredit dan DPK masih mengalami kenaikan.

"Tapi sekarang perhatikan kredit, sudah mulai melandai. Ini nanti lama-lama akan melengkung ke bawah dan kredit year on year akan turun tidak sampai 3%," kata Ryan dalam diskusi Restrukturisasi Kredit/Pembiayaan di Masa Pandemi COVID-19, Senin (18/5/2020).

Dia mengungkapkan kredit diprediksi hanya tumbuh di angka 1-2% sepanjang 2020 ini.

Kemudian untuk rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) juga akan mengalami kenaikan karena tekanan yang terjadi pada perekonomian. Hal ini karena dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akan memperlambat kegiatan ekonomi yang membuat situasi memburuk.

"Saya meyakini NPL gross ini akan bergerak naik karena COVID-19 ini memukul semua sektor tanpa pandang bulu," imbuh dia.

Sebelumnya berdasarkan data Bank Indonesia (BI) pada Survei perbankan yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) mengindikasikan pertumbuhan kredit baru pada kuartal I 2020 melambat.

Data BI menyebut hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru 23,7%, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya 70,6%.

"Melambatnya pertumbuhan permintaan kredit baru ini karena terjadinya perlambatan pada pertumbuhan kredit investasi yang menjadi 15,1% dari 70,3% dan kredit modal kerja menjadi 16,7% dari 65%," tulis keterangan resmi BI.



Simak Video "Jokowi: Ngeri, Dari Waktu ke Waktu Prediksi Ekonomi Dunia Makin Buruk"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/fdl)