Realita Industri Baja RI, Wamen BUMN: Bukan Industri yang Efisien

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 20 Mei 2020 16:10 WIB
Sejak 20 Januari 2019, pemerintah akan mengendalikan pemakaian impor baja. Selama ini industri baja dalam negeri keluhkan gempuran baja dari luar negeri.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin bicara mengenai industri baja di Indonesia. Menurutnya hingga kini realitanya industri baja Indonesia menjadi salah satu yang tidak efisien sedunia.

Akibatnya, industri lokal kalah dengan perdagangan baja dari luar negeri. Bahkan di negeri sendiri.

"Memang realitasnya industri baja Indonesia ini bukan merupakan industri baja yang efisien di dunia. Kemudian, akibat globalisasi perdagangan maka membuat tantangan besar," ujar Budi dalam diskusi industri baja yang diadakan Krakatau Steel, Rabu (20/5/2020).

Budi meminta agar industri baja bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya sehingga bisa bersaing dengan produk impor. Terlebih lagi menurut Budi dengan kapasitas permintaan dalam negeri di Indonesia sangat besar, hal ini bisa jadi potensi untuk industri lokal.

"Bangsa kita besar, artinya demand-nya besar, harusnya bisa dipenuhi industri lokal. Maka produktivitas dan efektivitas ini harus ditingkatkan mendekati benchmark global," ujar Budi.

Bahkan di luar negeri pun menurut Budi karena adanya virus Corona banyak negara mulai menggenjot industri lokal untuk penuhi kebutuhan lokal. Maka dari itu, kebutuhan baja nasional pun harusnya bisa dipenuhi industri lokal.

"Ke depannya pun struktur ini belum tentu sama kayak sekarang, apalagi ada pandemi Corona. Sekarang banyak negara yang amankan produksi nasional, maka kita jangan tergantung sama suplai dari luar negeri," kata Budi.



Simak Video "Pisau Dapur dari Limbah Baja Pabrik, Tulungagung"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)