APBN Tekor, Pemerintah Masih Gali Lubang Tutup Lubang

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 21 Mei 2020 10:30 WIB
BUMN percetakan uang, Perum Peruri dibanjiri pesanan cetak uang dari Bank Indonesia (BI). Pihak Peruri mengaku sangat kewalahan untuk memenuhi pesanan uang dari BI yang mencapai miliaran lembar. Seorang petugas tampak merapihkan tumpukan uang di cash center Bank Negara Indonesia Pusat, kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (21/10/2013). (FOTO: Rachman Haryanto/detikFoto)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Pemerintah masih gali lubang tutup lubang dalam melaksanakan APBN tahun anggaran 2020. Hal ini terlihat dari anggaran keseimbangan primer yang mencapai Rp 18,4 triliun hingga akhir April tahun ini.

Angka keseimbangan primer yang mencapai Rp 18,4 triliun setara 3,5% dari target Rp 517,8 triliun.

"Keseimbangan primer Rp 18,4 triliun," kata Wakil Menteri Keuangan Suahasil dalam paparannya via video conference, Jakarta, Rabu (20/5/2020).

Keseimbangan primer dalam APBN merupakan penerimaan dikurangi belanja negara, namun tidak memasukkan komponen pembayaran bunga utang. Artinya, bila keseimbangan primer bisa surplus, pemerintah tidak memerlukan utang baru untuk membayar pokok cicilan utang yang lama.

Sebaliknya, jika keseimbangan primer negatif maka pemerintah perlu menerbitkan utang baru untuk membayar pokok cicilan utang yang lama alias gali lubang tutup lubang.

Adanya angka keseimbangan primer dikarenakan realisasi pendapatan negara yang seret, hingga akhir April 2020 tercatat Rp 549,5 triliun. Realisasi ini baru 31,2% dari target dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 sebesar Rp 1.760,9 triliun.

Sedangkan realisasi belanja negara sudah mencapai Rp 624 triliun atau 23,9% dari target Rp 2.613,8 triliun. Belanja negara tumbuh negatif 1,4% karena realokasi dan refocusing anggaran oleh pemerintah.

Dengan capaian tersebut maka defisit anggaran sampai per 30 April 2020 mencapai Rp 74,5 triliun atau 0,44% dari produk domestik bruto (PDB).

"Defisit tahun ini Rp 74,5 triliun atau 0,44% dari PDB, lebih rendah dari tahun lalu yang akhir April 0,63% dari PDB atau Rp 100,3 triliun," kata Suahasil.



Simak Video "Jokowi Sebut Penanganan Corona Bikin Defisit APBN Bertambah"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/ara)