Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 22 Mei 2020 16:51 WIB

Keuangan Tekor, Bagaimana Nasib Ribuan Karyawan Kereta Api?

Hendra Kusuma - detikFinance
Riza Primadi Komisaris PT KAI dan Dody Budiawan Direktur Komersial PT KAI saat berbincang dengan penumpang KA Menoreh di Stasiun Jakarta Kota, Jakarta, Rabu (29/5/2019). Musim mudik lebaran mulai hari ini stasiun Jakarta Kota melayani pemberangkatan kereta jarak jauh. Adapun kereta yang berangkat dari stasiun ini adalah KA Kutojaya Utara, KA Jayakarta Premium dan KA Menoreh. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada seluruh pegawai baik di induk perusahaan maupun di anak usaha, meskipun keuangan perusahaan negatif akibat hantaman pandemi virus Corona.

Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo mengatakan, saat ini semua kewajiban yang didapat pegawai sudah dibayarkan seluruhnya.

"Dari sisi kesejahteraan kami di KAI tidak ada PHK, total ada 46 ribu pegawai, 30 ribu pegawai organik, 16 ribu di anak usaha," kata Didiek dalam paparannya via video conference, Jakarta, Jumat (22/5/2020).

"Gaji semua hak yang bersangkutan, THR sudah dibayarkan," tambahnya.

Didiek menceritakan, kondisi keuangan KAI saat ini sedang tidak baik menyusul tidak beroperasinya kereta jarak jauh selama COVID-19. Dia bilang pendapatan penumpang turun 90-93% setiap bulannya.

Didiek menyebut dalam kondisi normal, pendapatan angkutan penumpang KAI per hari bisa mencapai Rp 20-Rp 25 miliar, bahkan di hari besar bisa mencapai Rp 39 miliar.

"Dalam masa COVID ini pendapatan harian itu tinggal Rp 400 juta an, jadi terlihat pendapatan April sekitar Rp 32 miliar," ungkapnya.

Untuk menutupi seluruh dana operasional, Didiek mengungkapkan Perseroan mendapat dana talangan dari pemerintah sebesar Rp 3,5 triliun. Dana talangan ini dalam rangka menerapkan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) akibat COVID-19.

Dana talangan itu pun dimanfaatkan KAI untuk menutupi defisit keuangan selama April-Juni 2020, atau sesuai dengan skenario optimis yang dibuat perusahaan.

Lebih lanjut Didiek mengungkapkan, manajemen KAI juga akan menjalankan sekitar empat strategi agar kinerja perusahaan tidak merosot tajam selama pandemi Corona. Pertama adalah melengkapi pegawai lapangan dengan alat pelindung diri (APD) mulai dari face shield hingga hand sanitizer. Dari sisi konsumennya, manajemen memberlakukan prokol kesehatan sekaligus social distancing di ruang tunggu maupun di gerbong kereta apinya sendiri.

Kedua, mencari sumber pendanaan berupa kredit dari perbankan untuk menjaga stabilitas likuiditas perusahaan di tengah pandemi Corona. Sebab pendapatan angkutan penumpang tinggal tersisa 7-10% setiap harinya. Sehingga jauh dari rencana kerja perusahaan (RKP).

Ketiga, melakukan efisiensi dengan memangkas beberapa anggaran dan menunda pembayaran kewajiban.

"Artinya efisiensi apabila biaya tidak bisa dipotong maka kita delay pembayarannya. Kita bicara sama vendor kita sampaikan kalau pendapatan kita, maka kita minta relaksasi, kami juga meminta ke perbankan untuk meminta restrukturisasi sampai 1 tahun," katanya.

Keempat menstabilkan pendapatan dengan memaksimalkan penerimaan angkutan barang selama pandemi COVID.

"Artinya revenue yang sudah berjalan masih berjalan utamanya batubara masih bertahan menjadi sumber pembiayaan pendapatan utama pada saat COVID-19. Jadi ada 4 strategi," tutupnya.



Simak Video "KAI Imbau Penumpang Sakit Tak Memaksakan Diri Bepergian Jauh"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com