Pengusaha Yakin Ekspor dan Konsumsi RI Cepat Pulih dengan New Normal

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 26 Mei 2020 17:40 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal 3 Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/2/2020). Selama Januari 2020, ekspor nonmigas ke China mengalami penurunan USD 211,9 juta atau turun 9,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya (mtm). Sementara secara tahunan masih menunjukkan pertumbuhan 21,77 persen (yoy).
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani meyakini ekspor dan konsumsi nasional bakal segera pulih setelah diterapkannya kebijakan new normal. Ia optimistis karena pemerintah pemerintah sudah menyiapkan berbagai skenario new normal menghadapi pandemi COVID-19.

"Kami memproyeksi demand terhadap ekspor dan konsumsi nasional akan anik pasca new normal dibanding 1-2 bulan terakhir," ujar Shinta kepada detikcom, Selasa (26/5/2020).

Namun, menurut Shinta peningkatan ekspor dan konsumsi nasional ini tak bisa langsung terwujud dan butuh waktu serta tak bakal setinggi sebelum pandemi. Itupun bila dibarengi kedisiplinan yang tinggi.

"Peningkatannya akan lama dan belum akan setinggi seperti pada masa pra-pandemi. Inipun dengan proyeksi bahwa new normal sukses ditransisikan pelaksanaannya tanpa menciptakan peningkatan penyebaran wabah di Indonesia secara lebih eksponensial dari saat ini sehingga tidak ada tekanan dari masyarakat atau komunitas internasional terkait respons kebijakan nasional terkait pandemi yang dapat mendorong terciptanya diskriminasi perdagangan atau sentimen negatif terhadap iklim usaha dan investasi di Indonesia," tambahnya.

Oleh karena itu, dunia usaha saat ini masih memantau bagaimana skenario new normal ini bakal dijalankan. Para pengusaha skenario ini bisa berjalan lancar sehingga bisa mendorong kinerja manufaktur dan ekspor-impor.

"Secara logis dengan new normal, seharusnya hambatan-hambatan logistik, pembatasan-pembatasan jam operasional, berbagai bentuk karantina dan tekanan untuk tutup operasi dari pemerintah daerah akan turun sehingga kegiatan operasi perusahaan baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor bisa berkurang drastis dan kinerja/output manufaktur nasional bisa lebih tinggi dibanding 1-2 bulan terakhir," paparnya.

Meskipun demikian, Shinta menilai tekanan pada kinerja manufaktur dan ekspor-impor tidak hanya terjadi karena adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saja. Tekanan juga datang dari rendahnya permintaan pasar nasional dan global yang belum bisa diprediksi kapan bisa pulih kembali.

"Tetapi juga karena adanya faktor tekanan permintaan pasar nasional dan global yang kami tidak tahu pemulihannya dalam waktu dekat akan seperti apa karena sangat-sangat tergantung pada confidence pasar dalam negeri dan pasar global untuk meningkatkan pengeluaran atau melakukan transaksi yang sifatnya lebih non-primer atau non-esensial," pungkasnya.



Simak Video " Ini Aturan New Normal bagi Karyawan"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)