Mal Mau Dibuka Lagi, Pengusaha Siap-siap Rogoh Kocek Lebih Dalam

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 02 Jun 2020 14:35 WIB
Rencana penerapan new normal membawa harapan baru bagi perekonomian Indonesia. Penerapan new normal dipandang sebagai upaya adaptasi di tengah pandemi COVID-19.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto memastikan mal akan buka kembali di bulan ini. Pembukaan kembali itu dilakukan dengan sederet syarat, mulai dari pembatasan pengunjung, penyediaan alat kesehatan seperti hand sanitizer, serta memastikan protokol kesehatan diterapkan secara ketat.

Syarat pembukaan kembali mal-mal tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Menteri Perdagangan No 12 Tahun 2020 tanggal 28 Mei 2020 tentang Penerapan Protokol Kesehatan di Sektor Perdagangan.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey, selama ini para peritel yang masih beroperasi selama pandemi virus Corona (COVID-19) sudah menjalani sebagian ketentuan dalam SE tersebut.

"Kita juga sudah melakukan physical distancing ketika membayar harus antre jarak 1,5 meter. Serta untuk karyawan kita lengkapi dengan kedisiplinan mereka harus memakai APD berdasarkan tugas dan fungsi misalnya masker, sarung tangan, dan lain-lain. Karyawan juga melihat jika ada tumpukan-tumpukan orang di toko maka akan diurai, karyawan internal daripada peritel," ungkap Roy kepada detikcom, Selasa (2/6/2020).

Dengan segala upaya tersebut, Roy mengaku para peritel harus mengeluarkan biaya yang lebih besar demi beroperasi di tengah pandemi. Begitu juga dengan para peritel non pangan seperti department store yang nantinya boleh beroperasi kembali.

"Cost bertambah bukan fix cost tapi overhead cost. Yang namanya disinfektan, hand sanitizer, APD, service kepada customer karena harus stay at home anjuran dari pemerintah, kemudian kita memperbesar armada delivery, tenaga kerja untuk pengantaran. Itu kan semua kita menambah armada, menambah tenaga kerja. Outsourcing untuk mengantar barang, itu kan semua menambah biaya," jelas Roy.

Padahal, baik peritel yang terdampak langsung COVID-19 maupun tidak atau tetap bisa beroperasi mengalami penurunan pendapatan yang cukup signifikan.

"Kalau untuk yang terdampak langsung itu turunnya sudah 90% seperti department store seperti matahari, speciality store atau brand store seperti Ace Hardware. Kalau yang tidak terdampak langsung, yang harus buka selama pandemi ini setelah RS, seperti minimarket, supermarket, hypermarket, grosir atau wholesaler itu penurunannya 45-50%" paparnya.

Meski begitu, menurut Roy para peritel rela berkorban demi tetap beroperasi untuk memperbaiki keadaan di tengah pandemi Corona, serta demi menyediakan kebutuhan masyarakat.

"Iya, ini tantangan bagi kita. Tapi kita berkorban dan juga kita peduli terhadap kebutuhan pokok dan sehari-hari dari konsumen," ungkapnya.



Simak Video "Khawatir Corona, Seberapa Higienis Alat Makan yang Digunakan di Mal?"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)