China Buka-bukaan Gaji Tenaga Kerjanya di RI, Lokal Berapa?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 02 Jun 2020 18:35 WIB
tka china pulang lewat bandara banyuwangi
Foto: Ardian Fanani: TKA China pulang lewat Bandara Banyuwangi
Jakarta -

Isu tenaga kerja asing (TKA) khusus dari China menjadi sorotan tajam publik di Indonesia. Pemerintah China pun buka suara menjelaskan seputar TKA di Indonesia.

Wang Liping, Minister Counselor Kedutaan Besar China di Indonesia mengatakan untuk data jumlah TKA China di Indonesia, bisa langsung mengecek ke Kementerian ketenagakerjaan. Wang menjelaskan TKA China di Indonesia bekerja di berbagai bidang termasuk: pertambangan, listrik, manufaktur, taman industri, pertanian, ekonomi digital, asuransi dan keuangan, tempat kerjanya terutama di Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa Barat.

TKA China di Indonesia, kecuali sebagian merupakan kalangan manajemen, yang lainnya adalah teknisi dan pekerja terampil. Sebelum datang ke Indonesia, mereka sudah semuanya menyerahkan dokumen-dokumen sesuai dengan persyaratan Kementerian Ketenagakerjaan dan Ditjen Imigrasi, seperti sertifikat pendidikan, sertifikat keterampilan dan kualifikasi lainnya, dan juga sudah mendapatkan persetujuan yang diperlukan.

"Kalau kita lihat situasi pada saat ini, setiap pekerja Tiongkok di Indonesia setidaknya bisa menciptakan 3 lapangan kerja untuk masyarakat lokal Indonesia. Contohnya, proporsi pekerja Tiongkok terhadap pekerja Indonesia di Taman Industri IMIP adalah 1 banding 10; JD.id adalah 1 banding 70, dan Taman Industri Julong adalah 1 banding 150," ujar Wang dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (2/6/2020).


"Seorang pekerja terampil Tiongkok pada umumnya dibayar US$ 30 ribu per tahun ditambah biaya penerbangan internasional dan akomodasi yang wajib ditanggung oleh perusahaan, sementara itu seorang pekerja lokal Indonesia dibayar 10% dari total biaya pekerja Tiongkok," sambung Wang.

Oleh karena itu, kata Wang, demi mengendalikan biaya investor China tak mempunyai alasan untuk tidak mempekerjakan pekerja lokal. Bagi beberapa proyek yang diinvestasikan oleh pelaku usaha China, memang
Indonesia tak mampu menyediakan cukup tenaga teknis dan pekerja terampil, makanya perusahaan China harus menggunakan pekerja China meskipun biayanya tinggi.

Namun, perusahaan-perusahaan Tiongkok telah merumuskan rencana lokalisasi, yakni lebih banyak mempekerjakan pekerja lokal demi menurunkan biaya.

"Sebagai contoh, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan secara bertahap beralih ke manajemen lokalisasi. HUAWEI sedang melakukan pelatihan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) pekerja lokal, dan sampai sekarang pekerja Indonesia yang menerima pelatihan tersebut telah melebihi 7.000 orang," tutur Wang.



Simak Video "Aksi Penolakan TKA China Dipukul Mundur, 105 TKA Lolos"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)