Mau Digabungkan dengan Bulog dan RNI, Bos PTPN Setuju?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 04 Jun 2020 10:32 WIB
Gedung Kementerian BUMN
Foto: Hendra Kusuma-detikFinance
Jakarta -

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berencana membentuk klaster pangan dengan menggabungkan PTPN, Perum Bulog, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI.

Menurut Direktur Utama (Dirut) PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Holding Mohammad Abdul Ghani rencana besar Erick ini merupakan upaya membentuk rantai pasok atau supply chain pangan demi mengurangi ketergantungan impor. Pasalnya, masing-masing perusahaan pelat merah tersebut memiliki fungsi yang saling berkaitan dalam hal distribusi pangan.

"Ketika kita melakukan konsolidasi itu kan memperhatikan supply chain. Dari hulu ke hilir, dari bahan baku, satu produk, sampai ke pemasarannya, terus supporting, sumber bahan baku, berkaitan itu, jadi dijadikan supply chain. Jadi pendekatan klaster industri, dari 27 menjadi 12 itu, pendekatannya supply chain," kata Ghani dalam wawancara khusus dengan detikcom di kantornya, Jakarta, Rabu (3/6/2020).

Misalnya impor daging yang masih rutin dilakukan demi memenuhi kebutuhan dalam negeri. Menurut Ghani, PTPN punya potensi untuk mengurangi ketergantungan tersebut misalnya dengan produksi pakan untuk ternak dalam negeri.

"Daging itu kita impor masih banyak. Padahal PTPN itu punya namanya bahan silasis, itu dari pucuk tebu yang dicacah itu manis untuk hewan, bisa jadi pakan ternak, disimpan itu bisa 2 tahun. Kita punya bungkil kelapa sawit, itu bisa untuk 250.000 ekor dalam 1 tahun. Kita punya tetes, kita tinggal cari investor," jelas Ghani.

Begitu juga dengan gula. Menurut Ghani, jika hasil produksi Holding PTPN langsung disalurkan ke Bulog, maka harga gula bisa dikendalikan.

"Kalau PTPN yang sebagai produsen gula, lalu gulanya masuk ke Bulog disimpan untuk kebutuhan 1 tahun, maka nanti harga di mana pun bisa dikontrol. Seperti Pertamina itu, Premium itu di mana-mana harganya sama Rp 5.500/liter," terangnya.

Ia sendiri masih terus menanti kelanjutan rencana merger BUMN sebagai 1 klaster pangan ini. Menurutnya, dengan klaster tersebut maka pemerintah bisa mengendalikan spekulan dalam persoalan pangan di dalam negeri.

"Isu ke depan itu kan food and energy terpenting. Nah pemerintah melalui BUMN ingin meningkatkan kapabilitas di food and energy. Kenapa begitu? Ketika negara tidak memiliki kapasitas untuk mengendalikan ekonomi secara business to business dikendalikan oleh spekulan," sambung dia.



Simak Video "Dituding Rusak Kebun Teh, 12 Petani di Sukabumi Dipolisikan"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)