Pemodal Tak Gentar Suntik Modal ke Startup, Nggak Takut Buntung?

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 05 Jun 2020 14:55 WIB
ilustrasi startup
Foto: Internet
Jakarta -

Perusahaan rintisan atau startup diyakini menjadi masa depannya dunia usaha. Namun untuk mencapai hal itu membutuhkan waktu yang lama. Banyak dari startup bahkan yang sudah menjadi unicorn masih dalam tahap 'bakar uang'.

Di masa ini keberlangsungan startup sangat tergantung dari suntikan modal dari investor. Kebanyakan dari mereka belum bisa meraup keuntungan untuk menjalankan operasionalnya. Lalu pertanyaannya mengapa investor berani menempatkan uangnya ke perusahaan startup?

Pandu Patria Sjahrir, merupakan salah satu pemilik modal Indonesia sangat tertarik investasi di perusahaan rintisan. Meski dikenal sebagai Direktur PT Toba Bara Sejahtra Tbk dan Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), ternyata dia sudah menjadi investor perusahaan startup selama 7 tahun.

Lewat perusahaan besutannya Indies Capital dan AC Ventures sudah menyuntikkan modal kurang lebih ke 70 perusahaan startup, nilai investasinya bisa mencapai US$ 100 juta. Beberapa startup yang didanai oleh Pandu melalui AC Ventures adalah WarungPintar, Wahyoo, Aruna, Waste4Change, Xurya, Paxel, Akseleran.

Dia juga menjabat sebagai Presiden Komisaris SEA Group (dulunya Garena) untuk wilayah Indonesia yang menaungi Shopee. Pandu juga diketahui sebagai salah satu anggota Dewan Komisaris Gojek dan juga Bukalapak.

Selaku investor, Pandu mengaku berani menyuntikkan modal ke startup lantaran melihat masa depan dari sisi pasarnya. Perusahaan digital juga memiliki segmentasi yang luas.

"Tapi secara garis besar memang market-nya ini, potensinya sangat besar. Misalnya e-commerce, kan orang belanja masih 98% offline, online-nya masih 2%. Kalau kita bisa naik 10% aja, itu udah 5 kali lipat," tuturnya saat berbincang dengan detikcom.

Pandu mengakui Indonesia memang masih tertinggal jauh dengan negara maju lainnya terkait industri digital seperti Amerika Serikat dan China. Namun menurutnya Indonesia memiliki keunikan tersendiri dari segi pasar.

"Adaptasi Indonesia jauh lebih cepat dari AS misalnya. Karena pertama muda-muda, kedua sangat suka mobile, ketiga yang sangat suka efisiensi," tambahnya

Dia mencontohkan jika penduduk Indonesia yang sudah berbelanja online masih 2%, dia yakin bisa mencapai 10% dalam 5 tahun ke depan. Jika mengacu pada penduduk Indonesia yang jumlahnya begitu besar, maka 10% merupakan pasar yang sangat besar. Pandu pun yakin di masa itu perusahaan seperti e-commerce sudah bisa meraup keuntungan.



Simak Video "Ini Dia Salah Satu Peluang Startup yang Masih Jarang Ada di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(das/ara)