3 Menteri Inspeksi Operasi Pupuk

3 Menteri Inspeksi Operasi Pupuk

- detikFinance
Jumat, 23 Des 2005 12:52 WIB
Karawang - Tiga menteri, yakni Menneg BUMN Sugiharto, Menteri Perindustrian Fahmi Idris dan Mentan Anton Apriantono melakukan inspeksi operasi pasar pupuk yang digelar di Kabupaten Karawang.Operasi pasar yang digelar Jumat (23/12/2005) ini mendistribusikan 1.173 urea dari pupuk Kujang dan 512 ton dari Petrokimia Gresik.Operasi pasar pupuk hasil kerjasama Dinas Pertanian dan Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) setempat itu dilakukan di 10 kecamatan di Kabupaten Karawang, antara lain Kecamatan Telaga Sari 46 ton, Lemah Abang 102 ton, Cilamaya Wetan 119,2 ton, Jati Sari 400 ton, Karawang Timur 73,2 ton, Majalaya 94 ton, Cilamaya Kulon 194 ton, Kutawijaya 125 ton, serta Tegal Waru 10 ton.Sanuri, seorang petani yang ikut operasi pasar mengungkapkan, persediaan pupuk beberapa waktu lalu memang sempat menipis. Padahal beberapa waktu lalu, stok pupuk cukup melimpah.Menanggapi masalah kelangkaan pupuk di deerah, Dirut Pupuk Kujang, Aas Asikin Sidat menyatakan, stok urea untuk kawasan Jawa Barat II yang mencakup Kabupaten Karawang sebenarnya sudah aman.Menurut Aas, hingga 12 Desember, stok mencapai 25.500 ton, dengan kebutuhan hanya 18.125 ton. Artinya masih ada surplus stok sebanyak 7.375 ton urea pada musim tanam kali ini.Aas menambahkan, kelangkaan yang muncul baru-baru ini terjadi karena berhentinya operasi salah satu pabrik Pupuk Kujang lantaran tidak ada pasokan gas. "Dan hal ini mengundang para spekulan," kata Aas.Menneg BUMN Sugiharto dalam konferensi pers di Gudang Pupuk, Desa Bayur Kidul, Kecamatan Cilamaya Kulon, Karawang mengatakan, dirinya sama sekali tidak memberikan toleransi untuk lima hal."Saya memberikan zero tolerance untuk direksi yang tidak memenuhi lima tepat, yaitu tepat waktu, tepat lokasi, jumlah, harga dan kualitas," tegas Sugiharto.Sebelumnya, Sugiharto usai memimpin rakor seluruh BUMN pupuk di Gresik menetapkan pola alternatif distribusi pupuk untuk menjamin ketersediaan pupuk di tingkat petani dan mengamankan harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp 1.050 per kg.Sementara Mentan Anton Apriantono menambahkan, perlunya penyuluhan kepada petani mengenai pemakaian pupuk."Kita sudah menghitung alokasi di Karawang dll. Caranya dengan menghitung luas area kali kebutuhan menurut jenis tanaman dan kalau kurang, umumnya ada kekeliruan penggunaan oleh petani. Harusnya 250 kg urea per hektar, tapi di lapangan petani suka memberikan hingga 450 kg. Artinya ada yang mubazir," urai Mentan. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads