RI Perlu New Normal Biar Ekonomi Jalan Lagi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 11 Jun 2020 17:17 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Pemerintah telah menerapkan skenario new normal untuk menjalankan roda perekonomian nasional. Skema ini juga diharapkan bisa memperbaiki kondisi ekonomi yang masih tertekan akibat pandemi COVID-19.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan skema new normal ini bertujuan agar masyarakat produktif namun tetap aman dari COVID-19.

Selain itu new normal juga menjadi cara untuk memperbaiki kondisi perekonomian nasional.

"Masyarakat harus patuh dalam menjalankan protokol kesehatan dan aktif untuk memutus rantai penyebaran (virus)," kata Airlangga dalam halal bihalal online, Kamis (11/6/2020).

Dia mengungkapkan pandemi ini memang berdampak buruk pada perekonomian nasional. Terutama di sektor pariwisata, restoran, transportasi umum, otomotif hingga pembiayaan konsumen.

Menurut dia, new normal ini memang harus dilakukan untuk memulai kembali perekonomian nasional. Apalagi beberapa waktu lalu perekonomian Indonesia sudah mencatat tren yang positif seperti nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar AS, cadangan devisa meningkat hingga indeks harga saham gabungan yang membaik.

Airlangga menjelaskan kondisi perekonomian nasional selama masa pandemi COVID-19 hampir semuanya turun drastis, bahkan hampir seluruh sektor perekonomian terpotong antara 50% hingga 20%. Namun demikian ada pula sektor yang masih positif.

"Sektor yang paling baik adalah pangan, kesehatan, dan kelapa sawit atau produksi minyak nabati. Sementara yang lain semuanya berada di bawah," ucap Airlangga.

Melihat kondisi tersebut, menurut Airlangga, maka harus dilakukan restart engine ekonomi. Hal tersebut diperlukan agar Indonesia bisa menahan yang terkena PHK dan menahan kondisi masyarakat yang berada di near poor menjadi poor.

Kondisi perekonomian Indonesia sebenarnya sudah mendapatkan kepercayaan di mata pasar. Menurut Airlangga, indikator perekonomian Indonesia saat ini positif. Misalnya penerbitan obligasi oleh Hutama Karya yang ratingnya rendah karena dijamin oleh pemerintah.

"Hal itu menunjukkan beberapa hal penting. Pertama, ini berarti kepercayaan terhadap surat utang kita positif. Kedua, pasar modal sudah mulai rebound dan ketiga, currency kita relatif cukup kuat," tambah Airlangga.

Dari segi makro ekonomi, Airlangga juga melihat kepercayaan pasar terhadap Indonesia dan terhadap kebijakan yang diambil pemerintah adalah positif.

"Kita harus menjaga perekonomian nasional dan mengutamakan produksi nasional dan menjaga daya beli masyarakat agar jangan dimanfaatkan oleh importir yang akan menguntungkan negara lain," pungkas Airlangga.



Simak Video "Bagaimana Penerapan Skema New Normal di KRL?"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)