Nasib Industri Makanan Mewah Suram Dihantam Corona

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 12 Jun 2020 17:18 WIB
Shabu-shabu sher wagyu di kahyangan
Foto: dokdetikFood
Jakarta -

Permintaan global akan makanan premium atau mewah seperti daging sapi wagyu, tuna sirip biru, dan kaviar kini anjlok akibat ribuan restoran dan hotel berbintang tutup karena pembatasan wilayah (lockdown) akibat pandemi Corona.

Beberapa produsen makanan bekerja keras melobi konsumen untuk tetap membeli bahan makanannya. Sebagian lainnya terpaksa memangkas hampir setengah produksinya. .

Data pemesanan yang dikumpulkan oleh OpenTable, sebuah layanan reservasi restoran online, menunjukkan penurunan hampir 80% di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Kanada, Australia, Irlandia, dan Meksiko tahun ini.

Menurut Direktur Pelaksana Caviar Perlita Michel Berthommier selama masa karantina orang jarang memasan bahan makanan mewah karena mereka khawatir akan pengeluarannya di masa yang akan datang.

"Selama di rumah aja orang tidak akan mau mencicipi anggur Chateau Petrus, lobster atau kaviar," kata Berthommier. Dikutip dari, Reuters Jumat (12/6/2020).

Direktur Layanan Konsultasi Pertanian di IKON Commodities di Sydney Ole Houe mengatakan makanan berkelas premium salah satu sektor yang terpuruk di dunia.

Kini anjloknya permintaan akan makanan premium berdampak terhadap turunnya harga di pasaran. Di Tokyo, harga potongan daging sapi wagyu berkualitas tinggi telah turun sekitar 30% dari tahun sebelumnya, tuna sirip biru terbaik di Jepang telah turun lebih dari 40% , sementara harga 'melon Earl' yang terkenal dari Shizuoka merosot 30%.

Perusahaan pembibitan sturgeon top Russian Caviar House sementara itu menawarkan diskon 30% untuk kaviar hybrid Beluga. Sementara di Prancis, harga kaviar merana di dekat posisi terendah, penjualan sampanye anjlok, dan produsen foie gras harus memangkas produksi untuk menopang harga.

Pada akhirnya berdampak pula ke nelayan. Kini nelayan kerang tiram dan kerang dari Cape Cod dan tempat pemancingan juga harus membatasi tangkapannya karena permintaan yang terus merosot.

Untuk menanggulangi anjloknya pendapatan, produsen makanan kelas atas berusaha menjangkau konsumen secara langsung melalui platform e-commerce. Sebagian lainnya mengarahkan lebih banyak produk ke supermarket.

"Kami mempercepat pasokan produk kami ke beberapa supermarket terbesar dunia, tukang daging gourmet, dan mengarahkan ke konsumen secara online," kata Hugh Killen, Kepala Eksekutif Produsen Daging Sapi Australia, Australian Agricultural Company.

Tetapi beberapa vendor mengatakan penjualan ke supermarket jauh lebih tidak menguntungkan daripada menjual ke restoran kelas atas.



Simak Video "Studi CDC: Makan di Restoran Picu Kasus COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)