Bikin Lumbung Pangan, RI Siapkan Lahan 30 Ribu Ha

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 18 Jun 2020 23:06 WIB
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendapat tugas dari Presiden Joko Widodo untuk melaksanakan program pengembangan food estate sebagai daerah yang diharapkan menjadi lumbung pangan baru di luar Pulau Jawa. Lokasi lumbung pangan baru ini direncanakan berada di Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah yang juga akan menjadi salah satu Program Strategis Nasional (PSN) 2020 - 2024.
Foto: Istimewa/Kementerian PUPR: Pembukaan Lumbung Pangan Baru Dimulai
Jakarta -

Pemerintah ingin mengembangkan food estate (lumbung pangan nasional). Hal ini dilakukan dalam rangka pengembangan lahan pertanian untuk menjamin ketahanan pangan nasional selama masa pandemi virus Corona (COVID-19).

"Presiden meminta kita mengembangkan yang namanya food estate," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam diskusi virtual, Kamis (18/6/2020).

Airlangga mengatakan akan kembali mengembangkan food estate yang pernah dibuat seperti di Kalimantan Tengah bekas lahan gambut, di Kabupaten Mappi dan di Merauke. Khusus untuk tahun 2020 ini akan disiapkan lahan sebesar 300.000 hektare (Ha).

"Tadi kami rapatkan dengan tim di mana Bapak Presiden memberi arahan agar berkonsentrasi pada satu lokasi yaitu di Kalimantan Tengah dan ditargetkan kawasannya sekitar 160.000 dengan ekstensifikasi lahan yang sudah ada dan khsusus 2020 dipersiapkan sebesar 30.000 hekatre (ha)," terang Airlangga.


Dengan luas lahan segitu, akan ditanam padi hibrida sehingga hasilnya bisa mencapai 6 ton per Ha.

"Jadi hasilnya cukup baik ditanaman hibrida bisa mencapai 6 ton per Ha sehingga dengan revitalisasi irigasi diharapkan bisa meningkat dan kita bisa punya 1 hamparan yang cukup untuk memproduksi padi," imbuhnya.

Dengan adanya Corona, berbagai negara telah berpikir untuk memenuhi kebutuhan negaranya masing-masing. Sehingga dalam berbagai kebutuhan termasuk pangan, berbagai negara harus putar otak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.


"Protectionism itu meningkat, berbagai negara mulai berpikir bahwa crisis value change harus diproduksi di negara masing-masing. Ini termasuk untuk farmasi dan demikian termasuk security pada pangan," jelasnya.



Simak Video "Jokowi Minta Tanaman di Food Estate dari Data Sains"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)