Apa Itu Rare Earth yang Dibahas Luhut dan Prabowo?

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 22 Jun 2020 19:51 WIB
FILE PHOTO: A bastnaesite mineral containing rare earth is pictured at a laboratory of Yasuhiro Kato, an associate professor of earth science at the University of Tokyo, July 5, 2011. REUTERS/Yuriko Nakao/File Photo
Ilustrasi rare earth/Foto: Reuters
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan buka suara terkait pertemuannya dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pekan lalu. Menurut Luhut, pertemuan dengan Prabowo saat ini salah satunya membahas timah dan rare earth untuk pembuatan senjata.

Lalu, apa itu rare earth?

Mungkin tak banyak yang tahu, pasir timah yang biasa diekspor ilegal dari Bangka Belitung (Babel) mengandung mineral tanah jarang (rare earth). Mineral ini memiliki harga jual tinggi.

Berdasarkan perbincangan detikcom dengan Direktur Utama PT Timah kala itu, Sukrisno, Minggu (28/6/2015), tanah jarang ini bisa dijual hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibanding timah itu sendiri. Komponen satu ini bahkan bisa digunakan untuk partikel nuklir, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga komponen elektronik.

"Tanah jarang atau rare earth ini mineral ikutan, dari proses pemurnian timah itu kan diayak istilahnya dimurnikan, dan mineral pasir itu mengandung tanah jarang atau monazite namanya," kata Sukrisno.

Tanah jarang bisa diproses menjadi 12 komponen, termasuk monazite, thorium, dan lainnya. Salah satu yang paling potensial untuk dijual adalah monazite.

Terkait dengan harga, tanah jarang ini disebut-sebut harganya lebih mahal dibanding timah. Harganya bisa mencapai 10 sampai 12 kali lebih mahal dibanding timah.

Tanah jarang tersebut bisa dijual per kg, sedangkan pasir timah dijual per metrik ton.



Simak Video "Covid-19 di Bali Meningkat, Luhut Batasi Kunjungan Turis"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)