Jaring 150 Perusahaan yang Mau Cabut dari China, RI Bisa Apa?

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 25 Jun 2020 15:18 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono

Sementara itu, Peneliti ekonomi INDEF, Enny Sri Hartati mengatakan relokasi investasi dari China ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk serius melakukan perbaikan berbagai kebijakan pro investasi.

"Investor sudah tahu Indonesia ibarat gadis cantik, tapi persoalannya adalah bagaimana minat investor untuk berinvestasi itu terealisasi. Minat investasi itu harus segera direspons stakeholder. Birokrasinya harus dibuat tidak berbelit dan memudahkan maupun memenuhi kebutuhan industri," kata Enny.

Apalagi jika melihat data BKPM, realisasi penanaman modal asing (PMA) yang masuk ke Indonesia pada kuartal I-2020 mengalami penurunan hingga 9,2% dibandingkan kuartal I-2019. Investasi di sektor sekunder yang mencerminkan investasi di sektor manufaktur juga terus menurun. Padahal, di awal tahun sudah banyak perusahaan yang mulai merelokasi investasinya dari China.

"Kalau tidak salah ada sekitar 34 industri asal AS yang sudah shifting investasinya ke negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, dan beberapa negara lain. Tapi tidak satu pun yang masuk ke Indonesia," katanya.

Oleh karena itu, Enny menyarankan para pembuat kebijakan harus benar-benar menangani kendala-kendala utama di bidang investasi. Sehingga pada periode atau gelombang berikutnya, Indonesia dapat menjadi salah satu tujuan relokasi investasi dari China tersebut.

Dalam memikat investasi untuk masuk, kata Enny, tidak ada salahnya mencontoh negara lain.

"Kalau itu bagus, kenapa kita tidak copy paste saja, ini lebih kepada soal keinginan pemerintah, mau berubah atau tidak," ujar Enny.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3