Ekonomi RI Diprediksi Tak Mudah Kembali ke 5%, Kok Bisa?

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 27 Jun 2020 17:45 WIB
Pandemi virus Corona membuat dunia usaha babak belur.  COVID-19 juga diproyeksi mendatangkan malapetaka pada ekonomi Indonesia, bahkan dunia.
Ilustrasi/Foto: Antara Foto
Jakarta -

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu menyampaikan Indonesia bisa saja mengalami yang namanya gelombang kedua COVID-19 usai dilonggarkannya aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Lantaran, episentrum kasus COVID-19 di Indonesia terus mengalami pergeseran.

Setelah Jakarta, kini Jawa Timur, Jawa Tengah hingga Sulawesi Selatan malah menjadi episentrum baru kasus COVID-19.

"Indonesia bukan tidak mungkin kita menghadapi second wave. Jakarta yang sekarang sudah dilonggarkan PSBB-nya harus terus dijaga supaya protokol kesehatannya benar-benar dilakukan sehingga second wave-nya harapannya tidak terjadi. Tapi tantangan kita di Indonesia sekarang adalah episentrumnya bergeser ke Jatim, Jateng, Sulsel, dan lain sebagainya," kata Febrio dalam diskusi virtual, Sabtu (27/6/2020).

Untuk itu, penerapan protokol kesehatan yang ketat harus diterapkan di seluruh wilayah Indonesia, tidak hanya di Jakarta, termasuk zona hijau COVID-19. Tujuannya agar tidak terjadi gelombang kedua COVID-19 di Indonesia.

"Ini yang memang akan terus jadi tantangan kita dalam beberapa bulan ke depan sayangnya itulah yang menjadi fitur utama dari krisis kita tahun ini, artinya kita tidak tahu, ini kapan berakhirnya pembatasan-pembatasan ini yang diakibatkan oleh episentrum yang terus bergeser dan seberapa mampu kita melakukan protokol kesehatan yang cukup disiplin sehingga kita bisa terhindar dari second wave," paparnya.

Akan tetapi, meskipun Indonesia terhindar dari gelombang kedua COVID-19, Febrio tidak yakin pertumbuhan ekonomi RI bisa kembali tumbuh ke level 5%.

"Bahkan ketika kita terhindar dari second wave pun artinya kita sedang mengalami pembatasan tidak mungkin kita beroperasi ekonomi dalam 100%. Nah artinya untuk kembali 5%, yang seperti katakanlah kita membayangkan itu sebagai potensial GDP kita, itu yang akan susah," imbuhnya.

Alasannya, pembatasan di daerah akibat pergeseran episentrum kasus COVID-19 tadi bisa berpengaruh terhadap terhambatnya aktivitas ekonomi di daerah dan ujung-ujungnya pada lapangan kerja secara nasional.

"Dan sayangnya itu yang akan menghambat kita untuk menciptakan lapangan kerja, akan menghambat kita untuk menambah aktivitas ekonomi untuk menuju GDP per kapita yang lebih tinggi. Itulah yang memang fitur utama dari krisis tahun ini dan semoga tidak berkepanjangan semoga di 2021 kita benar-benar bisa keluar," tuturnya.



Simak Video "Ekonomi RI Kuartal II 2020: Sektor Transportasi Paling Merana"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)