Sepeda Lipat Laris Manis Saat Pandemi, Nyarinya Susah!

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 02 Jul 2020 11:37 WIB
Sepeda lipat jadi salah satu andalan warga di ibu kota untuk beraktivitas. Bentuk sepeda yang bisa dilipat dan praktis membuat sepeda ini populer di masyarakat.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Penjualan sepeda lipat di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi ini mendadak laris manis. Kebanyakan penjual mengalami lonjakan permintaan.

Berdasarkan telusuran detikcom ke toko sepeda rodalink di bilangan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2020), ada saja calon pembeli yang mengunjungi toko untuk service sepedanya, hingga sekadar lihat-lihat untuk membeli sepeda. Kebanyakan dari mereka mencari sepeda lipat, namun stok kosong.

Store Supervisor Rodalink, Dodi mengatakan sejak pelonggaran PSBB ini masyarakat lebih banyak mencari sepeda lipat karena bentuknya yang praktis bisa dibawa ke mana-mana.

"Sejak PSBB new normal ini memang lebih banyak cari sepeda lipat karena lebih compact, lebih praktis buat dibawa-bawa. Tapi stok lagi kosong," katanya saat ditemui di toko.

Marketing Communications Rodalink Indonesia, Rina Mutia Ramdani mengatakan tren sepeda di masa new normal ini memang meningkat. Bahkan permintaan saat ini lebih besar dari pasokan (supply).


"Masa seperti ini memang permintaan lebih besar daripada supply tetapi sejauh ini kami selalu bisa memenuhi kebutuhan konsumen," ucapnya.

Meski permintaan meningkat, Rina menegaskan tidak ada kenaikan harga sepeda. Harga yang ada saat ini merupakan harga lama.

"Kami tetap menjaga kualitas dan kepercayaan masyarakat apalagi di saat pandemi ini. Itu lah kelebihan kami, harga tetap, kami tidak memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan keuntungan karena kami mengutamakan konsumen," imbuhnya.

Sepeda lipat tidak hanya kosong di Rodalink. Berdasarkan telusuran detikcom di toko euro cycle, stok sepeda lipat juga kosong.

Mau Service Harus Antre Panjang

Minat masyarakat yang tinggi untuk gowes di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi ini bukan hanya berdampak kepada penjualan sepeda yang naik. Melainkan juga meningkatnya permintaan untuk memperbaiki (service) sepeda.

Berdasarkan telusuran detikcom ke rodalink di bilangan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2020), toko sepeda ini semakin siang semakin ramai dikunjungi oleh pesepeda yang ingin memperbaiki sepedanya.

Bahkan ada calon pembeli yang harus mengurungkan niatnya untuk service di toko ini karena sudah full dan tidak bisa menampung lagi.

"Mohon maaf (untuk service) sudah full sampai tiga hari ke depan," kata salah seorang sales di toko tersebut.

Store Supervisor Rodalink, Dodi mengatakan penerimaan service tergantung tingkat kerusakan sepeda. Jika rusak berat dan harus ditinggal, maka dirinya hanya bisa melakukan service untuk lima sampai enam sepeda per hari.

"Karena kerusakan setiap sepeda kan beda-beda. Ini kita bilang full karena ada sepeda yang belum ke service. Tapi kalau kerusakannya ringan kayak cuma ganti ban itu bisa sampai 10 permintaan (per hari)," tuturnya.

Mekanik sepeda Rodalink sebut saja Deden, dia mengatakan tren penjualan sepeda yang naik ini merupakan pertama kalinya yang terjadi selama dia bekerja.

"Memang naik penjualan. Pertama kalinya ini," ucapnya.



Simak Video "Bersepeda untuk Kesehatan, Surabaya"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)