Mengenal Kingold, Perusahaan di Balik Skandal Emas Palsu di China

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 02 Jul 2020 13:06 WIB
A melter checks an ingot in Ahlatci Metal Refinery in the central Anatolian city of Corum, Turkey, May 11, 2017. Picture taken May 11, 2017. REUTERS/Umit Bektas
Foto: Reuters
Jakarta -
Skandal mengejutkan terkuat di China. Terjadi pemalsuan emas terbesar dalam sejarah yang menunjukkan bahwa 4% cadangan emas China kemungkinan besar adalah palsu.

Skandal itu bermula dari ditemukannya cadangan emas sebanyak 83 ton yang disimpan perusahaan emas Kingold Jewelry Inc. Ternyata cadangan emas itu palsu.

Padahal jumlah emas tersebut digunakan Kingold untuk memperoleh pinjaman sebesar 16 miliar yuan atau setara dengan 22% produksi emas tahunan dan 4,2% dari cadangan emas China pada 2019 lalu.

Lalu siapa sebenarnya Kingold Jewelry?

Melansir website resmi Kingold Jewelry, Rabu (2/7/2020) perusahaan ini didirikan pada 2002. Perusahaan ini mengaku sebagai produsen terkemuka perhiasan 24 karat di China, dan saat ini menjadi pemasok grosir besar, serta memiliki puluhan pengecer nasional.


Perusahaan ini mengaku memiliki kelebihan dari kompetitornya dari segi desain kelas dunia dan kualitas unggul.

Kingold menuliskan pertumbuhan penjualan yang pesat. Pada 2006 penjualan perusahaan sebesar US$ 29 juta, sementara pada 2016 perusahaan mengantongi penjualan hingga US$ 1,4 miliar.

Tidak hanya perhiasan, Kingold juga menjual produk emas untuk investasi melalui bank di China.

Perusahaan ini sebenarnya juga bukan perusahaan main-main. Saham Kingold juga tercatat di indeks Nasdaq, bursa saham di New York sejak 2010.

Menurut pemberitaan Reuters, saham Kingold (KGJI.O) tercatat merosot 40,2% pada Senin kemarin menjadi US$ 0,67. Itu merupakan level terendah sejak listing di 2010.

Sebelumnya diberitakan lebih dari 10 lembaga keuangan China, meminjamkan 20 miliar yuan selama 5 tahun terakhir ke Kingold. Saat itu Kingold menyerahkan emas murninya sebagai jaminan dan polis asuransi untuk menutupi kerugian. Namun nyatanya, batangan emas yang digunakan sebagai agunan ternyata bukan emas asli, melainkan tembaga berlapis emas.

Skandal emas palsu ini mulai terungkap saat perusahaan Dongguan Trust Co Ltd melakukan likuidasi agunan Kingold untuk menutupi utang yang gagal bayar pada Februari lalu. Menurut laporan, Kingold gagal membayar investor dalam beberapa produk kepercayaannya pada akhir 2019 lalu.

Pada awal Juni, perusahaan Minsheng Trust, Dongguan Trust, dan kreditor kecil Chang'An Trust mengajukan tuntutan hukum terhadap Kingold dan menuntut PICC Property and Casualty Company Limited (PICC P&C) untuk menutupi kerugian mereka. PICC P&C adalah perusahaan asuransi non-jiwa terbesar di China daratan yang didirikan sejak 2003 lalu.

Pihak PI&P PICC menolak untuk mengomentari terkait masalah ini, tetapi menyebut telah menyerahkan kasus ini ke prosedur pengadilan, menurut laporan media Caixin.

Seorang sumber dari PICC P&C mengatakan bahwa prosedur klaim harus diprakarsai oleh Kingold sebagai pihak tertanggung, bukan lembaga keuangan sebagai penerima manfaat. Sayangnya, Kingold belum mengajukan klaim.



Simak Video "Susuk Emas Masih Ngetren, 'Nanogold' Terus Diteliti"
[Gambas:Video 20detik]
(das/zlf)