Pemerintah Prioritaskan Gas Untuk Pupuk
Kamis, 29 Des 2005 01:30 WIB
Jakarta - Pemerintah tampaknya akan memprioritaskan pengolahan gas alam untuk mengatasi kelangkaan pasokan gas dalam negeri. Daripada diekspor dalam bentuk LNG, pengolahan gas menjadi pupuk lebih menguntungkan sembilan kali lipat.Menneg BUMN Sugiharto menjelaskan pengolahan gas ada dua pilihan. Pertama gas alam diekspor dalam bentuk LNG dengan harga US$ 2 per mmbtu hingga US$ 6 per mmbtu. Kedua dengan mengolah gas menjadi pupuk dengan harga jual yang memang lebih murah yakni US$ 3 per mmbtu."Meskipun demikian yang harus dilihat produktivitas ke petani dengan dialihkan ke pupuk, ada multiplier effect sembilan kali. Jangan hanya melihat keuntungan dalam waktu singkat tapi harus dipikirkan implikasi forward and backward linkage," ujar Sugiharto usai penandatangan MoU dengan Menperin Fahmi Idris di Gedung BUMN, Jl Wahidin Raya, Jakarta, Rabu (28/12/2005).Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lanjut Sugiharto meminta adanya sinergi antara tiga kebijakan, yakni kebijakan di bidang energi, industri dan pertanian dengan tujuan swasembada pangan."Dalam rapat kita berdebat apakah gas dijadikan LNG untuk diekspor demi kepentingan Depertemen ESDM dan Depkeu, atau yang dipikirkan bagaimana menyediakan pupuk bagi petani," ujarnya.Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan tidak menutup kemungkinan pemerintah akan meninjau ulang kebijakan ekspor gas. Selama ini 75 persen produksi gas dieksporke luar negeri. "Ini sah-sah saja," ujarnya.
(ddn/)











































