Ada Perjanjian Kerja Sama, RI Bisa Genjot Ekspor ke Australia?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 07 Jul 2020 20:00 WIB
Setelah melalui negosiasi panjang selama 13 tahun, Australia dan Indonesia sepakat merampungkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komperhensif (IA-CEPA).
Presiden Jokowi dan Perdana Australia Scott Morisson/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) telah berlaku sejak 5 Juli 2020. Perjanjian ini akhirnya terealisasi setelah 10 tahun melalui proses perundingan antara Indonesia dengan Australia.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menuturkan, dengan berlakunya IA-CEPA ekspor Indonesia ke Australia bakal meningkat. Pasalnya, dengan IA-CEPA maka kedua negara sepakat menghapus bea masuk terhadap suatu produk yang masuk ke pasarnya masing-masing.

"Indonesia mengalami surplus US$ 1,7 miliar dalam perdagangan jasa pada 2018. Untuk itu, dalam perdagangan jasa kita berharap akan lebih meningkat lagi. Selain itu, dengan berlakunya IA-CEPA, ini kita optimistis arus produk Indonesia ke Australia akan semakin besar dengan penurunan tarif seluruh bea masuk menjadi 0%," kata Jerry dalam keterangan resminya, Selasa (7/7/2020).

Menurut Jerry, IA-CEPA ini bukan hanya soal perdagangan antara dua negara. Tapi juga mencakup perjanjian kemitraan strategis dalam bidang ekonomi, investasi, peningkatan kapasitas tenaga kerja, investasi, kesehatan, persaingan usaha, perdagangan jasa, pariwisata, transportasi, dan aturan ketentuan legal lainnya.


"Jadi, cakupannya sangat luas dan bisa dimanfaatkan oleh banyak pemangku kepentingan di tanah air. Karena itu, kita harus memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya," jelasnya.

Menurut Jerry, perjanjian ini harus dimanfaatkan pengusaha sebagai ajang meningkatkan daya saing.

"Misalnya, dalam sektor teknik terdapat klausul yang mengakomodasi kerja sama peningkatan kapasitas insinyur Indonesia. Indonesia telah mencapai Washington Accord Provisional Status pada Juni 2019 dan menargetkan penyelesaian Washington Accord Signatory Status pada 2021. Akreditasi tersebut diperlukan agar kemampuan insinyur Indonesia diakui di Australia sehingga bisa mencari pekerjaan atau proyek di sana," terang Jerry.

Jerry melanjutkan, contoh lain adalah dalam peningkatan daya saing perawat. Pasar perawat Indonesia di negara-negara asing selama ini sangat diminati.

"Dengan adanya pengakuan terhadap akreditasi perawat Indonesia diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan membuka lebar peluang kerja bagi perawat Indonesia pada sektor kesehatan di Australia," pungkasnya.



Simak Video "Jokowi: Indonesia-Australia Genjot IA-CEPA Dalam 100 Hari"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)