'Garuda Ahli Kirim Orang RI ke Luar, Tak Jago Bawa Orang Luar ke RI'

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 08 Jul 2020 21:30 WIB
Runut Kisruh Laporan Keuangan Garuda
Foto: Tim Infografis/Mindra Purnomo
Jakarta -

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra mengungkapkan, maskapai pelat merah itu sangat mahir membawa warga negara Indonesia (WNI) bepergian ke luar negeri. Sayangnya, Garuda masih kalah dalam membawa turis asing berkunjung ke Indonesia.

"Garuda itu sangat-sangat ahli dan sangat-sangat fokus mengirim orang Indonesia ke luar. Tidak jago membawa orang luar ke Indonesia. Dan ini setelah diskusi mendalam, ditemukan bahwa tahun lalu masyarakat Indonesia menghabiskan US$ 80 juta ketika melakukan perjalanan ke luar negeri. Sementara data ke dalam negerinya tidak terlalu banyak," kata Irfan dalam webinar Jakarta Chief Marketing Club (CMO), Rabu (8/7/2020).

Untuk itu, saat ini Garuda Indonesia tengah fokus mendorong kunjungan turis asing ke Indonesia. Salah satu upayanya yakni menyediakan penerbangan dari dan ke Eropa serta Amerika Serikat (AS) langsung ke Denpasar, Bali.

"Dengan kita terbang langsung dari dan ke Denpasar, kita berharap bahwa para wisatawan dari Eropa maupun Amerika tidak mampir-mampir di jalan, baik di Dubai, Doha, Singapura, atau Bangkok tapi langsung ke Denpasar. Dan ketika di Denpasar, kemudian bisa extend ke tempat-tempat eksotis lainnya seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Yogyakarta, maupun Danau Toba," jelas Irfan.

Selain itu, pihaknya juga berencana mengatur ulang jam penerbangan dari luar negeri. Misalnya saja dari Australia. Langkah ini dilakukan supaya ketika wisatawan mancanegara (wisman) tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali masih punya waktu untuk check in ke hotel di siang hari, dan berwisata di Bali pada malam harinya. Lalu, ketika hendak pulang ke negara asalnya, wisman itu masih memiliki waktu untuk check out di siang hari, dan berbelanja oleh-oleh di Bali sebelum terbang pulang di malam hari.

"Beberpa jadwal Garuda dari Australia itu sampai di Denpasarnya malam. Artinya begitu dia masuk Denpasar, dari airport ke hotel dia sudah lelah. Sementara ke luar dari Bali dan kembali ke Australia itu pagi hari jam 8 atau jam 9. Ini yang kemudian membuat mereka marah karena ke luar dari hotel pagi-pagi tidak sempat menikmati sarapan gratis yang disediakan hotel, kemudian lari-lari ke airport, ke boarding gate dan langsung naik pesawat," imbuh Irfan.

"Kalau ini bisa kita ubah, dan ini ada beberapa flight yang kita upayakan untuk bisa diubah. Sampai di Bali adalah siang hari, ke luar dari airpot, dan bisa check in ke hotel. Ke luar dari Bali jam 7 malam, sehingga ke luar dari hotel mereka akan habiskan dananya untuk makan, membeli oleh-oleh dan segala macam," sambung dia.

Dengan upaya tersebut, harapannya Garuda bisa membantu mendatangkan turis asing lebih banyak ke Indonesia dan menambah devisa.

"Jadi kita menemukan data bahwa spending capability mereka jauh lebih tinggi, ini yang mesti kita fokuskan supaya mendatangkan devisa lebih banyak ke negeri ini," pungkas Irfan.



Simak Video "Melihat Penampakan Pesawat Garuda Indonesia Kenakan Masker"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)