Ada The Power of Emak-emak di Surat Utang Pemerintah yang Laku Rp 18 T

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 13 Jul 2020 16:30 WIB
Petugas menghitung uang setoran tunai di Kantor Cabang Pembantu Bank BNI, Jakarta Pusat, Rabu (8/8/2012). File/detikFoto
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mengungkapkan ada peran 'emak-emak' di balik larisnya surat berharga negara (SBN) ritel yaitu obligasi negara ritel seri ORI017. Hingga kini sudah terjual Rp 18 triliun.

"Jadi untuk ibu-ibu ini kalau kita lihat dari sisi jumlah investor maupun nominalnya biasanya di peringkat ketiga. Dia peringkat ketiga setelah pegawai swasta dan wiraswasta. Tapi kalau kita lihat pemesanan investornya, ibu-ibunya justru dia menduduki peringkat nomor dua setelah wiraswastawan," kata Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan Deni Ridwan dalam live Instagram, Senin (13/7/2020).

Jika dirata-rata per kepala, emak-emak membeli surat utang ORI017 sebesar Rp 569 juta.

"Jadi kalau wiraswastawan secara rata-rata dia pesan itu sekitar Rp 752 juta per investor, ibu-ibu ini sebesar Rp 569 juta. The power of emak-emak ini luar biasa," sebutnya.

Namun dari segi jumlah investor, kalangan ibu-ibu masih sedikit, yakni hanya 9% saja dari total keseluruhan.

"Sekarang ibu rumah tangga itu sekitar 9% dari total investor kita. Sementara yang pertama ada dari pegawai swasta sebesar 37%, dan yang kedua dari wiraswasta sebesar 27%. Jadi untuk pegawai swasta mungkin mereka juga sudah lebih teredukasi ya. Jadi sudah sengaja menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk berinvestasi," ujarnya.

Satu lagi yang menarik adalah investor dari kalangan generasi Z yang latar belakangnya masih bersekolah. Dari jumlah dana yang diinvestasikan di ORI017 per kepala lebih besar dibandingkan generasi milenial.

"Justru yang generasi Z ini lebih besar dibandingkan generasi milenial. Menarik ya. Jadi kalau dari sisi jumlah investornya lebih besar milenial. Tapi kalau dihitung per investornya ternyata generasi Z lebih tinggi dibandingkan dengan generasi milenial," ujarnya.

Hal itu berdasarkan analisis pihaknya karena orangtua sudah melek untuk menginvestasikan dana pendidikan anaknya di surat utang milik pemerintah.

"Sehingga biaya kuliah anaknya nanti itu sudah mulai, yang sebelumnya ditaruh dalam deposito mungkin yang jumlahnya mungkin miliaran itu sudah bisa dialokasikan untuk anaknya ini di dalam bentuk ORI. Ini baru analisis kita ya dengan melihat data yang cukup menarik," tambahnya.



Simak Video " Cerita di Balik Seruan Jokowi Ajak Benci Produk Asing"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/dna)