Perluasan BLT Bisa Dongkrak Penerimaan Pajak

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 15 Jul 2020 13:49 WIB
Chatib Basri resmi menjabat orang nomor satu di Kementrian Keuangan usai serah terima jabatan (sertijab) dari Pt Menkeu Hatta Rajasa, di Gedung Kemenku, Jakarta, Selasa (22/5/2013).  File/detikFoto.
M Chatib Basri (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Pemerintah kini tengah bersiap menerapkan tatanan era normal yang baru atau new normal. Akan tetapi, adanya new normal dianggap belum efektif meningkatkan penerimaan pajak. Lalu, apa yang bisa dilakukan pemerintah agar bisa mendongkrak penerimaan pajak yang sempat lesu akibat pandemi COVID-19?

Menurut Ekonom sekaligus Mantan Menteri Keuangan era SBY, M Chatib Basri kebijakan yang paling efektif mendongkrak penerimaan pajak adalah perluasan pemberian bantuan langsung tunai (BLT) ke masyarakat. Lantaran, hanya dengan BLT daya beli masyarakat akan meningkat kembali dan konsumsi pun perlahan pulih. Bila permintaan akan konsumsinya baik maka segala aktivitas ekonomi lainnya juga akan bergerak naik. Sebagaimana diketahui, penerimaan pajak paling besar, menurut Chatib masih berasal dari korporasi bukan individu.

"Di dalam spending government, yang paling besar itu paling efektif adalah bansos terutama BLT," kata Chatib dalam acara Pajak Bertutur 2020, Rabu (15/7/2020).

Chatib menyebut insentif pajak yang dikeluarkan pemerintah selama ini ke dunia usaha belum efektif. Lantaran, belum banyak dunia usaha yang bisa memanfaatkan insentif tersebut.

"Insentif pajak yang diberikan oleh pemerintah tentu intensinya baik, tapi saya khawatir mungkin tidak seefektif yang kita bayangkan, mengapa karena yang paling terkena adalah sektor informal, sementara mereka itu sulit sekali di-cover di dalam data pajak. Jadi, insentif usaha sampai sekarang belum banyak yang memanfaatkan dan tax expenditure kita sudah besar," ungkapnya.

Kemudian Chatib menjelaskan alasan BLT bisa mendongkrak penerimaan pajak. Menurut studi yang dilakukan secara pribadi oleh Chatib, BLT mampu meningkatkan permintaan konsumsi ke dunia usaha. Dampak jangka panjangnya, konsumsi yang baik otomatis mampu menarik investasi lebih deras lagi masuk ke ekonomi Indonesia. Investasi inilah yang nantinya mampu menyelamatkan dunia usaha dari keterpurukan akibat pandemi, kemudian pembayaran pajak dari dunia usaha bakal lancar lagi.

"Kita selalu berfikir, investasi kita dorong maka orang punya pendapatan, maka kemudian income-nya naik dan mendorong konsumsi, faktanya tidak begitu, faktanya adalah sebaliknya, kenaikan konsumsi sekarang akan meningkatkan investasi 1 triwulan dari sekarang, jadi kalau kita mau bikin aktif dunia usaha, yang pertama kali harus kita lakukan adalah permintaannya dulu dinaikkan, caranya melalui fiskal, dengan BLT dengan macam-macam program," tuturnya.

Selain BLT, pemerintah diminta mengevaluasi kembali penjaminan kredit kemudian stimulus termasuk insentif ke dunia usaha yang sudah dikeluarkan selama ini.

"Apakah betul insentif ini betul-betul bermanfaat? Saya punya pengalaman, sebagai Kepala BKPM, Menteri Keuangan itu yang namanya tax holiday itu peminatnya tidak terlalu besar, tax allowance tidak begitu besar, jadi kita mesti define apa sebetulnya. Jangan-jangan alokasinya lebih baik insentifnya dalam bentuk yang lain, ini yang saya kira perlu dilakukan evaluasi," pungkas Chtaib.



Simak Video "Tips Hadapi Permintaan Harga Teman"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)