3 Alasan RI Harus Hindari Gelombang Kedua Corona

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 18 Jul 2020 08:30 WIB
Pandemi virus Corona membuat dunia usaha babak belur.  COVID-19 juga diproyeksi mendatangkan malapetaka pada ekonomi Indonesia, bahkan dunia.
Foto: Antara Foto
Jakarta -

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan mengungkapkan pemerintah sedang berupaya menjaga perekonomian Indonesia agar tidak terdampak parah oleh virus Corona. Bahkan, pemerintah tidak ingin adanya gelombang kedua Corona alias second wave kasus penyebaran.

Kepala BKF Febrio Kacaribu mengatakan ada beberapa alasan bagi pemerintah harus menghindari gelombang kedua. Mulai dari laju ekonomi nasional yang lambat hingga biaya pemulihan yang sangat mahal. Berikut 3 alasan pemerintah harus hindari gelombang kedua Corona:

1. Biaya Penanganan Sangat Mahal

Febrio memastikan ongkos pemerintah Indonesia menangani dampak Corona terhadap perekonomian Indonesia sangat mahal. Anggaran yang disediakan pemerintah sebesar Rp 695,2 triliun.

Mahalnya anggaran penanganan COVID-19, kata Febrio dikarenakan pemerintah harus melebarkan defisit anggaran ke level 6,34% atau setara 1.039,2 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) dari yang biasanya hanya di bawah 3%.

"Ini mahal, dan postur terakhir defisitnya 6,34%, itu artinya pengeluaran dibanding penerimaan lebih besar sebanyak Rp 1.039,2 triliun, itulah biaya kita menghadapi COVID terutama kesehatan dan ekonomi," kata Febrio saat live Instagram membahas gotong royong membiayai pemulihan ekonomi, Jumat (17/7/2020).

2. Laju Ekonomi Berat

Di masa transisi menuju kenormalan baru, Dia menjelaskan kapasitas pergerakan ekonomi nasional sangat terbatas. Dia mencontohkan, pengoperasian beberapa sektor usaha yang dibatasi maksimal sebesar 50% dari total kapasitasnya.

"Ini harus dimanage dan ini yang kita sadari kalau ekonomi gerak tidak mungkin full capacity, misalnya restoran dibuka tapi tidak boleh full, bioskop nanti dibuka mungkin boleh hanya setengahnya diisi, transportasi demikian, walaupun kita berusaha senormal mungkin tetap kita tidak akan beroperasi full capacity, ini yang membuat ekonomi perlahan pulihnya," katanya.

Dengan demikian, jika Indonesia terserang second wave kasus Corona maka pemulihan ekonomi nasional berjalan lebih lama dan lebih berat. Oleh karena itu juga dirinya lebih fokus menahan dampak COVID-19 kepada ekonomi nasional supaya tidak dalam.

3. Wajib Patuhi Protokol Kesehatan

Salah satu yang dilakukan melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) serta tetap mematuhi protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah, seperti pakai masker, menjaga jarak, hingga mencuci tangan. "Gimana caranya tidak terjadi second wave, harus ikuti protokol kesehatan, disiplin lah, ikuti protokol kesehatan," katanya.

Dia mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi nasional mulai pulih pada kuartal III-2020 setelah adanya pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Sambil melakukan ini secara disiplin, mudah-mudahan vaksinnya ketemu, kabar baiknya katanya vaksin ditemukan tahun depan, banyak sekitar 200-an vaksin yang berkompetisi, mudah-mudahan itu akan menambah kapasitas kita bergerak," ungkapnya.



Simak Video "Tanggapi Situasi Pandemi, Pemerintah Suarakan Terminologi Baru dan 3T"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/fdl)