Realisasi Investasi Diprediksi Meleset, Cari Kerja Bakal Makin Susah

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 20 Jul 2020 11:50 WIB
Investasi Tinggi Dorong Pertumbuhan Ekonomi & Lapangan Kerja
Ilustrasi/Foto: detik
Jakarta -

Investasi di dalam negeri diyakini tak akan mencapai target Rp 886 triliun yang ditetapkan untuk 2020. Bahkan skenario terburuk dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi hanya menyentuh Rp 817,2 triliun akibat pandemi COVID-19.

Rendahnya realisasi investasi ini, menurut Direktur Eksekutif Institute Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad akan membuat lapangan pekerjaan yang tercipta lebih sedikit. Otomatis cari kerja bakal makin susah.

"Ketika investasi tidak masuk ya otomatis katakanlah pembukaan pabrik, pembukaan sektor usaha baru, atau lapangan pekerjaan baru ya otomatis pembukaan kesempatan kerja tidak sebesar tahun lalu," kata dia saat dihubungi detikcom, Senin (20/7/2020).

Selain itu, realisasi investasi yang tidak optimal maka membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit didorong lebih tinggi. Padahal 1% pertumbuhan ekonomi diproyeksi mampu menyerap 300-400 ribu tenaga kerja.

Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal. Menurutnya semakin rendah realisasi investasi akan membuat penciptaan lapangan kerja baru semakin sedikit.

Dijelaskannya, dari investasi yang sudah eksisting saja banyak dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat tingkat permintaan atau demand di pasar menurun.

"Kalau yang eksisting saja di-PHK, tentu saja yang dari sisi investasi baru juga tidak akan muncul kan, atau sedikit yang muncul. Jadi artinya kalau investasi yang tertanam itu sedikit berarti kan daya tambahan terhadap serapan tenaga kerja juga menjadi sangat sedikit," ujarnya.

Lanjut dia, investasi merupakan salah satu kontributor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan kinerjanya yang tidak optimal di tengah pandemi COVID-19 maka ekonomi sulit tumbuh.

"Jadi kalau dia (investasi) kontraksi maka ini akan mendorong juga kontraksi di sektor pertumbuhan ekonomi, karena konsumsi rumah tangga juga kan mengalami kontraksi. Investasi juga sama. Berarti kan justru menarik pertumbuhan ekonomi menjadi mengalami kontraksi pada tahun ini," tambahnya.



Simak Video "Telkom Buka Suara Terkait Kabar Investasi ke Gojek"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)