Beda dengan Krisis 1998-2008, Efek Corona Dinilai Lebih Dahsyat

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 20 Jul 2020 12:36 WIB
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak
Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal
Jakarta -

Guncangan ekonomi yang ditimbulkan pandemi wabah COVID-19 jauh lebih dahsyat dari krisis ekonomi yang terjadi di 1998 dan 2008. Jika tidak diantisipasi maka dampaknya akan lebih suram dari krisis-krisis sebelumnya.

Menteri Keuangan 2013-2014, Chatib Basri menerangkan, hal yang paling berbeda kondisi saat ini dengan krisis 1998 dan 2008 adalah aktivitas ekonomi dan pengangguran tercipta karena didorong oleh pemerintah, bukan timbul sebagai akibat. Seluruh aktivitas dihentikan, orang diharuskan bekerja dari rumah, tujuannya untuk mencegah penyebaran COVID-19.

"Ini berbeda dengan 1998-2008. Karena sekarang ini orang tinggal di rumah kehilangan pekerjaan karena diminta oleh pemerintah. Aktivitas bisnis berjalan tapi orang diminta tinggal di rumah untuk mengatasi pandemi," ujarnya dalam acara Kemenkeu Corpu Talk yang dilangsungkan secara virtual, Senin (20/7/2020).

Oleh karena itu, Chatib menilai seharusnya masyarakat yang diminta untuk tinggal di rumah dan kehilangan pendapatannya dibayar oleh pemerintah. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga dinilai menghantam paling besar masyarakat menengah.

"Jadi ini ada persoalan, saya harus mengatakan bahwa yang namanya PSBB itu bias kepada menengah ke atas jika perlindungan sosialnya tidak cukup," tambahnya.

Masyarakat menengah dinilai juga sangat berdampak dari penerapan PSBB. Para pelaku UMKM kehilangan pendapatannya, belum lagi adanya badai PHK.

Oleh karena itu Chatib menilai dalam penerapan perlindungan sosial yang dilakukan pemerintah belum efektif. Seharusnya bantuan sosial tidak hanya diberikan untuk kelompok miskin, tapi juga masyarakat menengah.

"Dalam social protection, sebetulnya tidak hanya diberikan kepada kelompok miskin, tapi extend kepada lower middle income. Karena kita minta mereka tinggal di rumah, ini adalah konsekuensi logis. Kalau di 1998-2008 dia kehilangan pekerjaan dia jadi miskin," terangnya.

Sementara Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu juga mengakui bahwa kondisi saat ini jauh lebih berat dibandingkan dengan krisis-krisis ekonomi sebelumnya yang pernah menimpa Indonesia.

"Kita tahu sedang terjadi ini cukup. Kita tahu musuhnya tapi kita tidak bisa melihatnya. Pengangguran meningkat. Kita bicara ke dunia usaha masyarakat di lapangan, masyarakat sangat struggling, pengusaha warteg harus pulang ke Tegal. Ini luar biasa memang tekanan yang kita hadapi," tambahnya.



Simak Video "Sisa 1 Minggu Lagi Buat RI Cegah Jurang Resesi, Bisa?"
[Gambas:Video 20detik]
(das/zlf)