Daftar Ritel yang Bangkrut Gara-gara Corona

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 20 Jul 2020 18:30 WIB
jcpenney
Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Sejumlah ritel yang menjadi kekuatan pusat perbelanjaan di Amerika Serikat (AS) satu per satu berguguran alias bangkrut selama pandemi virus Corona (COVID-19). Hal itu disebabkan karena adanya pembatasan aktivitas yang berdampak terhadap pemasukan.

Dilansir CNBC, Senin (20/7/2020), mereka adalah merek pakaian seperti J.Crew, Brooks Brothers dan perusahaan induk New York & Co. RTW Retailwinds, Neiman Marcus, J.C. Penney, dan Stage Stores. Ada juga di sektor kesehatan yakni GNC dan perlengkapan dapur seperti Sur La Table. Daftar ini dinilai masih akan terus bertambah.

Ritel yang bangkrut itu hanyalah penyewa di mal dengan toko yang besar. Sementara pemilik mal seperti Simon Property Group, melaporkan memiliki harta sekitar US$ 8,5 miliar atau setara Rp 124,1 triliun (kurs Rp 14.600/US$) termasuk sekitar US$ 3,5 miliar atau Rp 51,1 triliun uang tunai pada 29 Juni.

Simon yang merupakan pemilik mal terbesar di AS mengumumkan telah bekerja sama dengan perusahaan pakaian Authentic Brands Group untuk menyuntik dana Brooks Brothers agar bisa melewati kebangkrutan.

Pinjaman US$ 80 juta yang disebut sebagai Sparc LLC (terdiri dari Simon dan ABG) diberikan tanpa bunga. Namun tawaran pinjaman mengharuskan merek Brooks Brothers digunakan sebagai jaminan bagi kreditur. Jika terjadi likuidasi Brooks Brothers, Sparc akan menyimpan kekayaan intelektual.

ABG dan Simon juga telah mengajukan tawaran sebesar US$ 191 juta untuk aset produsen denim Lucky Brand yang bangkrut. ABG, Simon dan pemilik mal Brookfield Properties juga telah menjajaki akuisisi department store Penney karena bangkrut. Ketiganya sebelumnya bersatu untuk menyelamatkan toko fesyen jadi Forever 21, yang bangkrut pada September 2019 dengan diberi suntikan senilai US$ 81 juta.

Masa depan Penney dinilai masih ada harapan. Sampai minggu ini, perusahaan terus mengeluarkan rencana di pengadilan dengan pemberi pinjaman. Hal itu membuatnya memiliki waktu hingga 31 Juli untuk mengevaluasi pembeli potensial untuk bisnisnya dalam upaya untuk menghindari likuidasi.

Kepala Eksekutif ABG Jamie Salter mengatakan Penney sebagai merek yang layak diselamatkan. Begitu juga dengan Brooks Brothers.

"ABG sudah memiliki banyak pengecer yang sudah tidak ada lagi termasuk Barneys New York, Nautica, Nine West dan Juicy Couture. Bermitra dengan seseorang seperti Simon menambah keahlian di bidang real estate, di samping lisensi merek dan manufaktur pakaian," kata Salter.



Simak Video "Lord & Taylor Bangkrut Dihantam Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)