Defisit APBN Tembus Rp 257 T, Sri Mulyani: Luar Biasa Besar

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 20 Jul 2020 17:25 WIB
Menkeu Sri Mulyani mengusulkan iuran BPJS Kesehatan yang baru sebesar Rp 160.000 per bulan per jiwa untuk kelas 1.
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Kementerian Keuangan mencatat hingga akhir Juni 2020 APBN defisit RP 257,8 triliun atau 1,57% terhadap PDB. Selain itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pendapatan negara hingga akhir Juni mengalami perbaikan, yakni Rp 811,2 triliun atau 47,7% dari target APBN.

"Penerimaan pajak Rp 531 triliun atau 44,4% dibanding tahun lalu itu berarti kontraksi pendapatan pajak 12%," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (20/7/2020).

Untuk Bea dan cukai tercatat positif Rp 93,2 triliun atau 45,3% dari Perpres 72 Tahun 2020. Sedangkan realisasi tahun lalu 85,6%.

"Kalau dilihat keseluruhan cost penerimaan kita kecuali hibah dan bea cukai ada kontraksi dalam. Ini terus diwaspadai karena penerimaan pendapatan negara kita akan lebih rendah," katanya.

Sementara belanja negara hingga Juni tercatat mencapai Rp 1.086,9 triliun atau 39% terhadap target. Rinciannya, belanja pemerintah pusat Rp 668 triliun dan transfer ke daerah dan dana desa Rp 440 triliun.

"Dari sisi defisit kita 10 triliun ini luar biasa besar dibanding tahun lalu. Dari total defisit 257,8 triliun naik signifikan tahun lalu Rp 135 triliun. Ini realisasi defisit sudah 1,57% dari GDP dibanding tahun lalu 0,85%" jelasnya.



Simak Video "Gegara Corona, Jokowi Prediksi Defisit APBN Mencapai 5,07%"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)