Pelajaran Kasus Jouska, Investasi Bukan Lewat Perencana Keuangan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 22 Jul 2020 13:44 WIB
Ilustrasi kurs dolar rupiah
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Para klien Jouska Indonesia yang merasa dirugikan mengungkap cara kerja perusahaan perencana keuangan tersebut. Informasi itu viral di media sosial khususnya twitter.

Akun Twitter Alvin Alvin atau @yakobus_alvin yang paling getol memposting permasalahan ini. Selain mengaku menjadi korban, dia juga membendung keluhan nasabah Jouska Indonesia lainnya yang kemudian dia posting melalui akunnya.

"Ramenya. Beberapa sudah banyak yang DM dgn kasus serupa. Sy ijin share ya. Kasus ky gni kayak gni saya yakin banyak sekali tapi malas atau gatau gimana melapor. Sy lapor ke @ojkindonesia juga gak ada tanggapan waktu itu," tulisnya.

Kebanyakan dari keluhan para nasabah itu sama, Jouska Indonesia memiliki akses untuk mengelola portofolio investasi saham para kliennya. Padahal Jouska Indonesia adalah perencana keuangan yang berlaku hanya memberikan perencanaan keuangan kliennya dan diharamkan mengelola langsung dana kliennya.

Peristiwa ini harusnya bisa jadi pelajaran bagi masyarakat yang hendak memulai investasi. Chairman & President Asosiasi Perencana Keuangan IARFC (International Association of Register Financial Consultant) Indonesia Aidil Akbar Madjid, menjelaskan, hal paling mendasar yang perlu diketahui adalah tugas dan fungsi perencana keuangan hanya membuat perencanaan investasi dan mengedukasi kliennya.

"Jadi financial planner tidak boleh mengelola dana nasabah. Karena kalau mau mengelola dana nasabah harus memiliki izin khusus," ujarnya kepada detikcom, Rabu (22/7/2020).

Mengelola dana nasabah hingga melakukan transaksi di pasar modal dan instrumen lainnya merupakan fungsi dari manajer investasi. Selain itu, mereka juga harus memiliki sertifikat wakil manajer investasi (WMI). Sementara untuk perorangan harus memiliki sertifikat Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE)

"Kalau pun punya itu dia nyantolnya ke mana, karena untuk punya izin WMI dan WPPE harus nyantol ke perusahaan efek bisa ke MI atau sekuritas," terangnya.

Sedangkan perencana keuangan seperti Jouska Indonesia adalah independen dan tidak terikat atau terafiliasi dengan institusi atau produk keuangan manapun. Jika dia berlaku mengelola dana nasabahnya maka dia sudah tidak independen sekaligus menyalahi aturan karena melakukan kegiatan yang di luar kewenangannya.

"Pertanyaannya dia independen atau pengelola dana? dua-duanya salah. Kalau ngaku independen salah, kalau pengelola dana ya lebih salah lagi. Karena perencana keuangan dari dulu diwanti-wanti kita tidak boleh mengelola dana atau melakukan trading nasabah meskipun diberikan kuasa penuh," tegasnya.



Simak Video "Kemenkominfo Soal Pemblokiran Website Jouska"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)