Defisit Anggaran Pemerintah Melebar Jadi Rp 1 Triliun, What's Next?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 24 Jul 2020 10:24 WIB
Gedung Kementerian Keuangan
Foto: Yulida Medistiara/detikFinance
Jakarta -

Pemerintah memproyeksi defisit anggaran menjadi 6,34% atau melebar ke posisi Rp 1.039,2 triliun dari produk domestik bruto (PDB). Pelebaran ini terjadi untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional (PEN) dengan menambah biaya menjadi Rp 695,2 triliun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Luky Alfirman menjelaskan saat ini memang seluruh negara masih menghadapi kondisi yang tidak pasti dan volatile.

"Jadi strategi besar kita itu harus fleksibel. Kita optimis tapi tetap prudent," kata dia dalam diskusi online, Jumat (24/7/2020).

Dia mengungkapkan, pemerintah berupaya untuk melihat kesempatan dan kondisi pasar saat ini. Selain itu, juga lebih objektif dan mencari pembiayaan yang semurah mungkin.

"Kita ingin cost of fund serendah mungkin. Tapi harus mengelola risiko misalnya dengan mengambil utang dan itu kita harus atur supaya tidak jatuh di tahun tertentu. Harus kita sebar dan diatur sedemikian rupa," jelasnya.

Selain itu pemerintah juga mengatur dan menangani risiko gejolak mata uang yang mungkin terjadi di kemudian hari.

Kemudian dalam mengelola APBN, pemerintah selalu melihat kapan pembiayaan dibutuhkan.

"Kita selalu punya target defisit APBN, jadi jangan seolah-olah kita diperintahkan ambil utang lagi. Ya kita tahu itu adalah salah satu cara untuk membiayai defisit APBN kita, tapi selalu masih dalam koridor kebutuhan," jelas dia.

Pemerintah saat ini sudah mengeluarkan peraturan presiden (Perpres) nomor 72 tahun 2020 yang merupakan revisi dari PMK nomor 54 tahun 2020. Dalam peraturan ini pendapatan negara sebesar Rp 1.699,94 triliun dengan komposisi penerimaan perpajakan Rp 1.404,5 triliun, PNBP Rp 294,14 triliun dan hibah Rp 1,3 triliun.

Kemudian untuk belanja negara Rp 2.739,16 triliun terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp 1.975,24 triliun termasuk tambahan belanja penanganan COVID-19 Rp 358,88 triliun, belanja TKDD Rp 763,92 triliun dan termasuk belanja penanganan COVID-19 Rp 5 triliun.



Simak Video "Gegara Corona, Jokowi Prediksi Defisit APBN Mencapai 5,07%"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ang)