Harga Emas Cetak Rekor Lagi, Ini Penyebabnya

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 01 Agu 2020 13:15 WIB
Gold ingots in the Siberian city of Krasnoyarsk, Russia, on Nov 22, 2018. A search of the woman led to the discovery of eight pieces of gold weighing a total of nearly 1.9kg.PHOTO: REUTERS
Ilustrasi/Foto: REUTERS
Jakarta -

Lagi-lagi harga emas cetak rekor. Harga emas di pasar spot naik 0,58% ke US$ 1.970,81 per troy ounce (toz). Sementara emas Amerika Serikat (AS) ditutup 1% lebih tinggi di level US$ 1.985,9 setelah sempat menembus level di atas US$ 2.000.

Kenaikan harga emas ini terjadi di tengah pelemahan nilai tukar atau kurs dolar AS. Rekor ini merupakan yang tertinggi sejak Februari 2016.

"Pelemahan dolar AS menopang harga emas lebih lanjut," kata Analis Standard Chartered Suki Cooper dikutip dari CNBC, Sabtu (1/8/2020).

Menurut riset Bank of America (BofA), alasan di balik harga emas terus cetak rekor adalah kebijakan Bank Sentral AS yang masih mempertahankan suku bunga acuan 0-0,25%. Implikasinya yakni peningkatan inflasi yang membuat sentimen para investor masih enggan mengincar produk investasi saham dan sejenisnya.

"Dengan tingkat suku bunga di level nol, dukungan untuk harga emas datang dari inflasi yang tinggi," tulis riset BofA.

Bahkan, BofA memprediksi harga emas mencapai US$ 3.000/toz dalam 18 bulan mendatang.

Data menunjukkan ekonomi AS mengalami pukulan terberat sejak Depresi Hebat pada kuartal kedua akibat pandemi, sementara investor juga bersiap menghadapi situasi politik yang tidak pasti di negara itu. Emas bullion telah naik hampir 30% sepanjang tahun ini.



Simak Video "Hari Ini, Harga Emas Tembus Rp 1 Juta/Gram"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)