Ekonomi Kuartal II-2020 Minus 5,3%, Kuartal III Bisa Selamat?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 05 Agu 2020 19:15 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 terkontraksi hingga 5,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utamanya karena juga mengalami kontraksi hingga 5,51%.

Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, akan sulit bagi Indonesia untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi di rentang positif pada kuartal III-2020. Apalagi, melihat penyebaran virus Corona (COVID-19) yang belum kunjung membaik, sehingga aktivitas di luar rumah, termasuk belanja masyarakat masih terbatas.

"Saya kok melihat agak berat ya situasinya. Yang pertama situasi kesehatannya masih belum terlalu membaik. Jadi satu hambatan, untuk kelas menengah ke atas yang konsumsinya tinggi, itu belanjanya masih tertahan," kata Tauhid kepada detikcom, Rabu (5/8/2020).

Apalagi, saat ini penyerapan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) baru mencapai 19% atau Rp 136 triliun dari total anggaran Rp 695,2 triliun.

"Kedua tentu saja PEN yang sudah berjalan kurang lebih 3-4 bulan dengan realisasi anggaran 19% ternyata tidak cukup mendorong pertumbuhan ekonominya lebih baik," jelas Tauhid.

Dihubungi secara terpisah, Ekonom Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Eric Sugandi juga mengatakan hal serupa. Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020, begitu juga di kuartal IV-2020 sangat bergantung dengan penyaluran anggaran PEN. Jika tak dipercepat, maka ia tak yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa kembali positif.

"Indonesia masih punya peluang tumbuh positif di kuartal III dan IV tahun ini jika demand side, terutama konsumsi rumah tangga bisa segera dipulihkan. Tapi ini benar-benar dengan asumsi yg sangat optimistik, yakni penyerapan dana PEN bisa cepat dilakukan dan wabahnya bisa mulai terkendali," terang Eric kepada detikcom.

Sementara, Peneliti dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar B. Hirawan berpendapat lain. Ia memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa kembali positif di kuartal III-2020.

Meski BPS mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga terkontraksi di kuartal II-2020 ini, namun Fajar optimistis di kuartal III-2020 konsumsi akan tumbuh positif.

"Di bulan Juni ada adjustment yang kentara sekali. Dari sisi demand itu mulai. Satu kalau masyarakat yang berhak yang mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) itu masih belum terlihat dampaknya. Jadi di kuartal III-2020 ini akan kelihatan. Dan saya rasa pertumbuhan konsumsi rumah tangga -5,51% bisa positif ya, lagi-lagi tidak jauh di angka tumbuhnya mungkin 0-1% saja," jelas Fajar ketika dihubungi detikcom.

Ia pun memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2020 berada di rentang positif 0-1%, namun dengan catatan realisasi anggaran PEN dipercepat.

"Di kuartal III-2020 saya sih masih optimis kalau misalnya memang Komite PEN bekerja dengan baik, bisa menjalankan pekerjaannya, dan bisa memaksa kementerian-kementerian teknis menyerap dana stimulus itu dengan baik untuk memulihkan ekonomi, saya rasa di kuartal III-2020 bisa positif. Walaupun tipis, mungkin rangenya bisa 0-1p% saja, nggak tinggi-tinggi banget," tandas Fajar.



Simak Video "Sri Mulyani Targetkan Pertumbuhan Ekonomi di 2021 Sebesar 5 Persen"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)