Pemerintah Diminta Ubah Skema Bansos Biar Daya Beli Strong Lagi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 06 Agu 2020 14:44 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Bantuan sosial yang diberikan pemerintah kepada masyarakat untuk menekan dampak pandemi COVID-19 dinilai kurang tepat. Metode ini dianggap tidak mampu mendorong daya beli masyarakat yang saat ini sedang merosot tajam.

Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengungkapkan bantuan sosial ini harusnya kembali dievaluasi oleh pemerintah. Pemerintah harus kembali melihat dan memilah mana kelompok yang seharusnya mendapatkan bantuan.

"Bansos itu bagusnya tunai dan untuk masyarakat kelompok bawah. Bukannya yang bergaji di bawah Rp 5 juta itu, itu nggak cocok lah," kata dia saat dihubungi detikcom, Kamis (6/8/2020).

Dia mengungkapkan, bansos tunai harus diberikan kepada masyarakat yang di-PHK karena terdampak Corona. "Jadi kalau PHK itu harusnya bansos langsung ngga perlu pelatihan. Apalagi datanya kan sudah verifikasi oleh Kemenaker, jadi langsung dan tepat sasaran," imbuh dia.

Peneliti CSIS Fajar B Hirawan mengungkapkan pemerintah juga harus memperhatikan program atau kebijakan ekonomi harus disasar pada kedua sisi beriringan.

"Bansos dan bantuan lainnya yang berupaya menjaga stabiitas daya beli melalui konsumsi rumah tangga dan sisi penawaran seperti insentif dan bantuan likuiditas bagi dunia usaha," kata dia.

Menurut Fajar, bantuan sosial ini lebih baik diberikan secara tunai. Hal ini agar ada fleksibilitas dalam penggunaanya di masyarakat.

"Menurut saya kita masih ada chance lebih besar terhindar dari resesi karena sebenarnya beban bukan pada masyarakat tapi justru ada di pemerintah," ujarnya.



Simak Video "Ini Daftar Bansos yang Didapat di 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)