Apa yang Harus Dilakukan RI Biar Nggak Tertular Resesi Filipina?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 06 Agu 2020 22:00 WIB
Poster
Foto: Edi Whayono
Jakarta -

Negara-negara tetangga Indonesia satu per satu terjun ke jurang resesi. Mulai dari Singapura yang diumumkan mengalami resesi pada 14 Juli 2020 lalu. Kini, Filipina juga jatuh ke jurang yang sama setelah pertumbuhan ekonominya mengalami kontraksi dua kuartal berturut-turut.

Badan Pusat Statistik Filipina atau Philippine Statistics Authority (PSA) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 minus 16,5% dibandingkan periode yang sama di tahun 2019 (year on year/yoy). Lalu, pada kuartal sebelumnya negara ini mencatat kontraksi ekonomi minus 0,7%.

Menurut ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, komposisi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) antara Indonesia dengan Filipina hampir sama, yakni didominasi oleh konsumsi rumah tangga.

Konsumsi rumah tangga di Filipina menyumbang 75% terhadap PDB, sementara Indonesia sekitar 57%. Namun, jumlah penduduk Indonesia dua kali lipat dari Filipina.

"Jadi kalau Filipina yang 75% ditopang konsumsi bisa masuk resesi, artinya Indonesia harus waspada. Karena penduduk Indonesia dua kali lipat, dan porsi konsumsi di Indonesia juga besar sekitar 57% dari PDB. Nah ini artinya Indonesia memang harus menjaga daya beli masyarakat," kata Bhima kepada detikcom, Kamis (6/8/2020).

Hal tersebut juga dinyatakan oleh peneliti Indef Abra Talattov. Maka dari itu, untuk menghindari nasib yang sama dengan Filipina, pemerintah harus mendongkrak pertumbuhan konsumsi dengan meningkatkan daya beli masyarakat.

Caranya ialah mempercepat stimulus baik berupa bantuan sosial (bansos), bantuan langsung tunai (BLT), dan sebagainya yang sudah dialokasikan anggarannya dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

"Kemarin per 22 Juli realisasi PEN baru 19%, nah setidaknya di kuartal III-2020 ini minimal 50%," ujar Abra ketika dihubungi detikcom secara terpisah.

Meski begitu, kedua ekonom tersebut menilai ancaman resesi tak bisa dihindari lagi. Hanya saja, dengan mempercepat PEN maka Indonesia berpeluang mencegah resesi yang lebih dalam.

"Jadi sebenarnya resesi dipastikan nggak bisa kita hindari. Indef juga memproyeksi di kuartal III-2020 pertumbuhan ekonomi di angka -1,3% sampai -1,7%. Tapi itu dengan asumsi realisasi PEN minimal 50%," terang Abra.

Sementara itu, ekonom Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Eric Sugandi menilai resesi Filipina tak akan berpengaruh besar bagi Indonesia.

"Dampak dari Filipina kecil karena Filipina bukan negara tujuan utama ekspor Indonesia, dan bukan negara sumber utama foreign direct investment (FDI) dan investasi portofolio di Indonesia," tutur Eric kepada detikcom.

Meski begitu, tetap saja ancaman resesi itu ada karena faktor internal Indonesia sendiri.

Adapun cara menghindarinya ialah mendongkrak daya beli masyarakat melalui PEN, dan mengurangi beban biaya hidup masyarakat.

"Percepat pencairan dana program BLT, bansos, dan lain-lain untuk perbaiki daya beli masyarakat. Juga jangan naikkan administered prices seperti tarif dasar listrik, BBM bersubsidi, cukai, dan tarif angkutan. Lalu sektor-sektor ekonomi juga dibuka bertahap tapi tetap dengan perhatikan kondisi wabah di daerah," tutup Eric.



Simak Video "Cerita Pilu Wanita AS yang Kehilangan Ibu Gegara Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)