Dihantui Isu Formalin, Industri Makanan Tetap Diunggulkan
Rabu, 04 Jan 2006 17:25 WIB
Jakarta - Meski dihantam pemberitaan formalin, Departemen perindustrian tetap mengunggulkan industri makanan sebagai penyumbang terbesar bagi pertumbuhan industri di tahun 2006."Target tahun 2006 industri makanan tetap yang tumbuh tertinggi yakni 4,5 persen mengingat tumbuh nol koma saja berdampak positif 27 persen terhadap pertumbuhan industri," kata Sekjen Depperin Agus Tjahayana.Hal itu disampaikannya saat evaluasi industri 2005 dan target 2006 di Kantor Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (4/1/2006).Di tempat yang sama, Dirjen industri kecil dan menengah Depperin Sakri Widhianto menjelaskan, jumlah tenaga kerja yang diserap industri pangan cukup banyak. Dari 67 ribu UKM, jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 290 ribu."Isu masalah bahan berbahaya (B2) telah berdampak bagi UKM yang tidak gunakan B2. Kami ambil langkah-langkah penyelamatan agar UKM yangtidak berhubungan isu formalin tidak kena dampak. Sementara yang kena diadakan pengaturan formalin produksi dalam negeri bersama departemen perdagangan dan BPOM," urai Sakri.Ia menuding penggunaan formalin dikarenakan adanya PPN, harga es yang lebih mahal. UKM pun memilih untuk menggunakan bahan berbahaya yang lebih murah."Kita bina UKM agar tidak gunakan bahan kimia dalam membuat makanan tapi lebih gunakan yang sifatnya alami seperti kunyit, Nigari untuk penggumpal tahu (Kerak air laut yang dimasak) dari Jepang agar diproduksi masal di Indonesia," tambah sakri.
(qom/)











































