AS dan China 'Tegang' Lagi, Bursa Saham Wait And See

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 11 Agu 2020 10:16 WIB
Imbas Virus Corona yang merebak dan menelan ratusan korban jiwa kini mulai menggoyang ekonomi China dan beberapa negara di Asia seperti Jepang. Pasar saham China pun ambruk sejak pembukaan perdagangan.
Ilustrasi/Foto: AP Photo
Jakarta -

Bursa saham Asia masih wait and see. Hal ini karena investor masih menantikan stimulus Amerika Serikat (AS) dan masih adanya ketegangan antara China dan AS terkait Hong Kong.

Futures S & P/ASX 200 Australia YAPcm1 turun 0,05% pada awal perdagangan pekan ini. Kemudian indeks Nikkei 225 futures NKc1 Jepang merosot 0,04%. Sementara itu indeks Hang Seng Hong Kong tercatat naik 0,43%.

Head of Strategy FX National Australian Bank Ray Atrill mengungkapkan awal pekan ini dibuka melemah. "Pelemahan ini terjadi di berbagai zona," kata dia dikutip dari Reuters, Selasa (11/8/2020).

Dia mengungkapkan stimulus fiskal yang diluncurkan AS sempat memberikan sentimen positif. Sebelumnya Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan dagang dengan China pada fase satu ini bisa kembali memicu ketegangan.

Saham AS indeks Dow Jones naik 1%, S&P 500 naik tipis dan Nasdaq ditutup lebih rendah karena investor melakukan aksi jual. Apalagi perintah eksekutif Trump yang meminta jajarannya untuk menegosiasi ulang kesepakatan bantuan untuk menekan dampak Corona menemui jalan buntu.

Selain itu, China juga memberlakukan sanksi kepada 11 warga AS termasuk anggota parlemen sebagai tanggapan atas penerapan sanksi oleh AS terhadap Hong Kong dan pejabat China yang dituduh membatasi kebebasan berpolitik di sana.

Analis Commonwealth Bank of Australia menyebut ketegangan AS dan China masih akan terus terjadi dan bisa membuat dolar semakin kuat. Indeks dolar naik 0,18%.



Simak Video "RI-China Sepakat Dagang Gunakan Rupiah & Yuan"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ara)