Sempat Terpuruk, Pusat Judi Dunia Akhirnya Buka Lagi

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 13 Agu 2020 09:35 WIB
Pedestrians walk past Casino Lisboa which has closed as super Typhoon Mangkhut edges closer to Macau on Sep 16, 2018. (Photo: Isaac Lawrence/AFP)
Read more at https://www.channelnewsasia.com/news/asia/typhoon-mangkhut-macau-shuts-down-casinos-10725920
Foto: Isaac Lawrence/AFP
Jakarta -

Pusat perjudian di Asia bahkan terbesar di dunia, Macau mulai dibuka kembali. Setelah menjadi kota hantu akibat pembatasan wilayah (lockdown) selama pandemi COVID-19, kini otoritas Macau secara bertahap mengeluarkan visa turis lagi.

Visa turis dikeluarkan kembali guna meningkatkan lagi kehidupan perjudian di Macau yang telah terpuruk. Selama lockdown para pemilik kasino di Macau mencatat kerugian hingga US$ 15 juta setara Rp 222 miliar (kurs 14.700) setiap harinya.

Dikutip dari BBC, Kamis (13/8/2020) otoritas Macau mengatakan pengeluaran visa turis dimulai pada Rabu kemarin. Visa tur yang akan dikeluarkan mulai dari visa individu hingga grup. Saat ini visa pertama akan dikeluarkan bertahap bagi wilayah yang terdaftar di wilayah administratif khusus China.

Administrasi Imigrasi Nasional China mengatakan wilayah yang akan mendapatkan visa turis pertama yakni tetangga Macau, Zhuhai. Pihak berwenang mengungkap peluang ini secara bertahap akan diluncurkan ke seluruh negeri selama Agustus dan September.

Selain penerbitan kembali visa, karantina dua minggu yang diberlakukan pada pelancong Macau sekembalinya mereka ke China dicabut di seluruh negeri mulai Rabu kemarin. Hal itu dilakukan karena tingkat infeksi virus Corona di Macau sangat rendah, hanya 46 kasus dan tidak ada kematian.

Perekonomian Macau sangat bergantung pada industri pariwisata, permainan, dan perjudian. Pada kuartal-I 2020 ekonomi Macau menyusut 49%. Kemerosotan ekonomi Macau disebabkan oleh lockdown pada kuartal-I dan membuat kota itu menjadi kota hantu karena hampir tidak adanya turis yang diizinkan masuk. Jumlah pengunjung untuk paruh pertama tahun ini turun 84% dibandingkan tahun 2019.

(fdl/fdl)