Pengusaha Pede Pesta Diskon Gede-gedean Bisa Pulihkan Ekonomi RI

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 13 Agu 2020 23:28 WIB
Sejumlah pengunjung memilih pakaian yang dijual di Mal Ramayana, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (16/5/2020). Sepekan menjelang Idul Fitri, sejumlah pusat perbelanjaan mulai menawarkan berbagai potongan harga guna menarik minat pembeli. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO: Ilustrasi pesta diskon
Jakarta -

Pesta diskon besar-besaran bakal dimulai mulai besok, Jumat (14/8/2020) hingga akhir bulan. Pesta diskon ini masuk ke dalam gelaran Hari Belanja Diskon Indonesia (HDBI) 2020 untuk memperingati HUT kemerdekaan Indonesia ke 75.

Sederet toko-toko di mal bakal memberikan beragam diskon yang identik dengan angka 75. Diskon bertebaran mulai dari gerai makanan dan minuman hingga gerai fesyen.

Menurut Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah gelaran diskon gede-gedean ini bisa membantu memulihkan perekonomian Indonesia.

"Hari belanja diskon ini bisa mengembalikan pemulihan ekonomi nasional, start awal dari situ," ujar Budihardjo kepada detikcom, Kamis (13/8/2020).

Pasalnya, dengan diskon besar-besaran diharapkan masyarakat lebih bergairah untuk belanja, sehingga angka konsumsi masyarakat meningkat. Dengan begitu perkonomian pun bergerak lagi.

"Kemudian, kita bisa dorong konsumsi bergerak lalu barang bisa terjual, sehingga ekonomi bergerak. Event ini juga bisa jadi kado untuk hari ulang tahun Indonesia ke 75 tahun," ujar Budihardjo.

Sementara itu, menurut Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, momen diskon gede-gedean ini diyakini dapat menstimulus kenaikan pada konsumsi rumah tangga masyarakat Indonesia.

"Iya kalau dilihat dari upaya pemerintah dalam mendorong upaya konsumsi dengan cara misalnya mendorong BLT kemudian ada juga pinjaman tanpa bunga kemudian sekarang di saat yang bersamaan ada HDBI untuk menstimulasi konsumsi, memang dia akan mendorong konsumsi RT," ujar Yusuf kepada detikcom, Senin (10/8/2020).

Sayangnya, kata Yusuf, porsi kenaikan konsumsi rumah tangga terhadap ekonomi secara keseluruhan masih sangat terbatas. Belum mampu menghindari Indonesia dari pertumbuhan minus seperti yang terjadi pada kuartal II-2020 lalu. Apalagi, kalau masyarakat Indonesia masih menahan diri dari kegiatan konsumtif tersebut.

"Tapi pada level yang terbatas belum sampai ke level bounce back ke level positif. Stimulan konsumsi dari bantuan pemerintah belum akan efektif jika masyarakat masih menahan konsumsi," jelas Yusuf.



Simak Video "Mulai Besok, Diskon Tiket Pesawat Hingga 50% Sudah Berlaku!"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)