Bisnis Urban Farming Bukan Cuma Tren, Peluangnya Masih Besar

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Minggu, 16 Agu 2020 18:50 WIB
Konsep urban farming saat ini memang menjadi tren berkebun di lahan sempit perkotaan. Salah satunya, Abdul Rahman yang merawat tanamannya di atas rumah.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pertanian di perkotaan atau urban farming saat pandemi ini menjadi ramai. Masyarakat saat work from home (WFH) memiliki kegiatan baru yakni berkebun atau bertani di pekarangan rumah atau di lahan yang sempit.

Namun urban farming tidak hanya di pekarangan rumah saja. Urban farming adalah praktik budi daya, proses dan distribusi bahan pangan yang berada di sekitar kota. Biasanya juga melibatkan peternakan, budidaya perairan, wanatani, dan hortikultura. Urban farming ini merupakan seluruh sistem produksi pangan yang terjadi di kota.

CEO Neurafarm Febi Agil Ifdillah mengungkapkan urban farming ini bukan tren semata, melainkan sudah ada sejak dulu. Memang, baru-baru ini saja terekspos karena banyak orang yang mencari kegiatan baru selama pandemi ini.

Neurafarm ini mengambil momen yang pas karena memiliki visi untuk mencapai ketahanan pangan dan membangun sistem agrikultur yang berkelanjutan dan resilient.

"Kami memberdayakan berbagai jenis petani, baik urban atau tradisional adalah hal yang tepat untuk dilakukan," imbuh dia.


Febi menyebutkan urban farming ini sudah menjadi sumber pangan dunia (1/5 produksi pangan dari urban). Karena urbanisasi juga terus meningkat, ke depan sistem urban dan rural akan saling menguatkan.

Menurut Febi untuk anak muda yang ingin memulai usaha urban farming ini bisa dimulai dari tanaman yang dikonsumsi sehari-hari seperti cabai dan tomat. Kemudian mulai dari skala kecil, bergabung dengan komunitas dan tidak ragu untuk bertanya.

"Jadi kan hobi ini untuk menghargai proses menanam yang dilakukan petani kita sehari-hari juga dan jangan lupa, tanya berbagai masalah di aplikasi Dokter Tania," imbuh dia.

Pemilik JiriFarm, Richard Sudibio Halim menjelaskan tren pertanian urban ini khususnya hidroponik ini masih sangat besar. Apalagi dengan lahan yang menyempit dan jumlah penduduk yang semakin banyak.

"Trennya sekarang pertanian mendekat ke kota, kalau dulu sayuran di Jakarta asalnya dari Sukabumi sekarang bisa lebih dekat. Dengan jarak yang dekat maka ongkosnya juga berkurang dan kualitasnya semakin baik," jelas dia.

Apalagi saat ini masyarakat makin sadar dengan gaya hidup sehat biasanya mereka mencari yang organik dan hidroponik, walaupun harganya cukup mahal. "Contohnya untuk keluarga yang baru punya anak, sayuran untuk anak biasanya beda yang hidroponik atau organik mereka mau anaknya lebih sehat, ya walaupun orang tuanya makan sayuran yang biasa," jelas dia.

Secara bisnis menurut Richard hidroponik ini masih memiliki kesempatan yang sangat luas. Dia menceritakan pernah berdiskusi dengan salah satu supermarket di Jakarta yang mengajukan penawaran permintaan suplai kangkung 3 ton setiap bulannya.

Menurut Richard, memang untuk hidroponik ini akan terasa berat di awal karena investasi green house dan peralatan yang baik. Namun seiring berjalannya waktu ini akan lebih mudah dan efisien.



Simak Video "Soraya Cassandra, Hijaukan Secuil Lahan di Tanah Urban"
[Gambas:Video 20detik]