Sepak Terjang Kreuz, 'Brompton' Made in Bandung yang Dipakai Jokowi

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 17 Agu 2020 07:00 WIB
Mengenal sepeda Kreuz, Bromton made in Bandung
Foto: Dony Indra Ramadhan

Dia bercerita, awalnya Kreuz didirikan untuk menjadi penyedia aksesoris pesepeda yang didirikan medio 2018 lalu. Produk andalannya adalah tas pannier alias tas touring untuk pesepeda. Kelebihan tas yang diproduksinya bisa lebih murah dibandingkan tas lain yang serupa bahkan buatan luar.

"Kita sebenarnya 2018 itu cuma apparel bikin tas pannier untuk touring, 2018 kita produksi kita jual. Lumayan lah. Kita bisa lebih murah waktu itu, kalau tas begini di Jerman bisa Rp 1,9 juta bikinan kita harganya cuma Rp 800-an ribu. Awalnya emang bukan sepeda cuma apparel aksesoris sepeda," cerita Yudi.

Kemudian Kreuz disebut sering ikut pameran setingkat nasional, Yudi bercerita setiap pameran kebanyakan stand lain membawa Brompton untuk didisplay. Dari situ lah pihaknya berpikir untuk eksperimen membuat sepeda sendiri.

"Di Jakarta namanya Indonesia Cycling Festival, nah di stan-stan lain itu banyak yang bawa Brompton itu di displaynya. Kita dari daerah, dari Bandung mana mampu bikin itu. Ya sudah kita buat aja lah prototipe," ujar Yudi.

Dari situ dimulai lah perjalanan panjang Kreuz membuat sepeda, di akhir 2018 Yudi bercerita pihaknya berhasil membuat prototipe dan langsung diuji coba dengan tour sepeda dari Purwokerto, Solo, hingga Surabaya.

Yudi bercerita, usai prototipenya mendapatkan banyak apresiasi dari pesepeda lainnya baru lah Kreuz serius menggarap sepeda. Hingga akhirnya produksi besar pertama dilakukan Maret 2020 lalu dengan membuat dan menjual 8 sepeda.

"Habis test ride, wah animonya banyak, baru lah kita serius buat. 2019 akhir kita dapat pinjaman Brompton kita lihat detilnya, diperbaiki prototipe kita. Maret 2020 baru produksi, sekitar 8 frame sepeda," ujar Yudi.

Produknya pun laris manis hingga kini, prestasi terbesarnya sepeda Kreuz bisa dipesan Jokowi. Sekarang dia mengatakan pesanan yang sudah ada jumlahnya sekitar 500 sepeda, antreannya saja sudah sampai 2-3 tahun ke depan.

Saking panjangnya antrean, Yudi pun memutuskan tidak menerima pesanan lagi untuk sementara waktu.

"Sekarang antrean 500 sepeda, sebulan baru 15 frame aja kemampuan kita. Sampai sekarang sudah sampai 2023 antreannya, makanya kita tutup dulu deh. Kalau mau dicatat waiting list ya nggak apa-apa kalau mau nunggu lama, kita nggak minta DP," kata Yudi.

"Sekarang kan cuma 15 frame bisanya, ya bertahap sih dinaikin, bertahap tapi nggak bisa langsung," ujarnya.



Simak Video "Airlangga: Pemerintah Tengah Dorong SNI Sepeda Kreuz"
[Gambas:Video 20detik]

(eds/eds)